My Heart Draws a Dream (by L’arc~en~Ciel)
Hora kaze ga ugoki dashita
mada akirametari ha shinai
Taiyou wo kumo no saki ni kanjiru kyakufuu de~Irou to Kono mune ha
Yume wo egaiteku yo dokomademo takaku
Jiyuu ni mau no sa My Heart draws a dream Oh oritatsu kanata de me wo aketara ~
Egao no mama no kimi ni aeru ki ga shiteRurarara Aeru to ii na rarara
Nee iki wo awasetara
Motto takaku toberu hazusa
Soko kara ha mirai ga mieru kana?
Futari de aroutoKono mune ha
Yume wo egaiteku yo harukanaru toki wo
tobi koeteku no sa my Heart draws a dream
itsu no hi ka kitto kanau to ii na
egao no mama no kimi de irareru noniSaa te wo nobashi
Ima, tokihanatou
kokoro ha dare mo shibarare ha shinai
shisen ha hizashi wo toraeteru
Donna sameta sekai de mo~Dare mo minna
yume wo egaku yo
yume wo egaku yo
yume wo egaku yo
OUR HEARTS DRAW A DREAM
yume wo egaku yo
yume wo egaku yo
yume wo egaku yo …horaOh oritayatte kanata de me wo aketara
Aa egao no mama no kimi ni aeru to ii na
Begitu terkesannya aku melihat videoclip track ini. Anak-anak dengan berbagai warna mata dan warna kulit dari berbagai penjuru dunia menyuarakan hal yang sama, ‘yume wo egaku yo’ yang artinya ‘i draw a dream’. Memang begitulah mereka, karena mereka tidak pernah takut untuk bermimpi…
Mimpiku, mimpimu…masihkah itu ada?
EK Sani
my heart draws a dream…
Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang ketika masih muda, tahu takdir mereka.
Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu.
(The Alchemist, by Paulo Coelho)
Demikian salahsatu dialog yang terdapat pada buku yang pernah kubaca. Begitu mengesankan. Kalimat-kalimat itu mengimaji ku akan sesuatu,mimpi.
Pernahkah dirimu bermimpi?Pernahkah dirimu memiliki suatu keinginan yang benar-benar ingin kau wujudkan?Pernahkah engkau berangan untuk berdiri tegak diatas mimpi-mimpi itu dan bersorak “Inilah mimpiku!!!”?Pernahkah?
Kalau aku, pernah…
Mimpi-mimpi itu masih terukir jelas di benak ini. Mereka seperti berlari-lari dalam citra ku, mencoba ‘tuk keluar menghirup udara kebebasan. Mimpi-mimpi itu membuncah di dada ku, merobek hati ini. Mimpi yang kutanam sejak dulu, ingin segera diwujudkan. Tapi entah kapan aku bisa menuai mereka, mimpi-mimpiku.
Benar, aku setuju dengan dialog diatas. Ketika kita masih muda, dunia terlihat begitu ramah. Tak ada batasan bagi siapapun untuk bermimpi, dan sejenak kita tahu apa yang kita ingin capai, apa yang ingin kita gapai. Namun, semua berubah seiring waktu…
Dunia seolah menghambat apa yang kita inginkan. Segalanya tampak kacau, tak seperti yang diharapkan. Perlahan-lahan kita menyadari mimpi itu tidak mungkin lagi terwujud. Dan tak diragukan lagi, semua imaji kita di waktu muda cuma tinggal menghias relung-relung hati.
Namun itu tidak bagiku. Mimpi ini masih terlihat jelas di mata ini. Mimpi ini masih mewarnai malam-malamku. Aku tak peduli, aku tak peduli siapapun tahu akan mimpi ini. Ini mimpiku, ini duniaku…
Suatu saat, aku ingin, aku mampu berdiri tegak diatas mimpi-mimpiku, dan menatap kefanaan dunia ini dari puncak mimpi. Aku yakin, suatu nanti diriku kan mampu berkata,”inilah yang kuimpikan sejak dulu!”.
Teman, tidakkah dirimu ingin bermimpi?Tentu dirimu tau, bagaimana indahnya kerajaan mimpi itu. Semuanya sesuai dengan apa yang engkau inginkan, apa yang engkau dambakan. Tidakkah batinmu ingin terpuaskan?Tidakkah hatimu itu lelah dengan keluhan-keluhan?Tidakkah engkau inginkan suatu pengharapan, yang membuat dirimu terus mampu berjalan diatas padang pasir kehidupan ini?
Jangan pernah berhenti untuk bermimpi, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu itu
(Arai-Sang Pemimpi, by Andrea Hirata)
Percayalah, mimpi ini belum usai. Mimpi ini akan terwujud. Entah itu kini, nanti, esok, lusa, entah kapan. Itulah yang akan menjadi air di kehidupanmu, yang akan membuatmu terus berjalan, di panasnya gelora dunia. Karena engkau tahu, dan engkau sadar, mimpimu belum terwujud dan akan engkau wujudkan…
“yume wo egaku yo, my heart draws a dream, Our Hearts Draw a Dream”
Look! the wind has moved, i won’t give up yet
i feel the sun behind the clouds i think you’ll be there in an opposite windThis chest is drawing a dream, towards to anywhere
fly high towards to the freedom MY HEART DRAWS A DREAM
Oh if I’d gone down in that place and I had opened my eyes
I have the impression that I could find you with that smile
I think that can find you it would be greatRight! If we join the sighs, we’ll fly higher
I wonder if there you can see the future?
We will walk togetherThis chest is drawing a dream, I’m going to overcome
a distant moment MY HEART DRAWS A DREAM
I think if someday doubtlessly it’d fulfilled it would be great
as you could be there with that smileCome on! I extend my hand, now i know it
my heart wont join to nobody else
that day when you poured your look over me I’ve captured it
In a kind of frozen wordNobody everybody
I draw a dream
I draw a dream
I draw a dream
OUR HEARTS DRAW A DREAM
I draw a dream
I draw a dream
I draw a dream look!Oh if I’d gone down in that place and I’d opened my eyes
Ah I think that find you with that smile would be great(My Heart Draws a Dream by L’arc~en~Ciel)
NB : Tulisan ini juga diinspirasi dari lagu My Heart Draws a Dream by L’arc~en~Ciel. Diatas adalah translation untuk lagu ini. Thanx atas lagu yang begitu indah ini Laruku *^_^*
EK Sani
reading, writing
diriku agak tersentak sejenak membaca headline sebuah buletin kampus, “Selamat Datang Para Penulis Muda! Selamat Datang Para Pembaca Buku!”. agak terbilang berlebihan menurutku. terkesan begitu ‘langka’ nya penulis muda serta pembaca buku saat ini, sehingga harus disambut ’segitunya’. tapi, tampaknya mereka tak salah…
minat baca masyarakat Indonesia memang masih sangat rendah, dalam setiap satu juta jiwa penduduk Indonesia, hanya ada 12 judul buku yang dibaca. kita lebih suka berbicara, menonton, bahkan bertopang dagu. sepertinya membaca itu hanya membuang waktu saja.
begitu banyak perspektif mengenai budaya membaca. aku ambil satu. kebanyakan dari kita berpikir bahwa membaca itu sesuatu yang mahal. dengan tegas kukatakan, itu salah besar. apakah dengan membaca itu berarti engkau harus mengeluarkan rupiahmu?tidak. asal engkau tahu saja, aku lebih banyak membaca buku pinjaman daripada buku ku sendiri. ini bukan berarti aku bangga lho. aku hanya ingin membuktikan, anggapan itu salah. kan sekarang sudah ada pustaka-pustaka yang memiliki berbagai koleksi buku. sekali lagi, kalau membaca itu mahal bagimu, itu mengada-ada.
belum puas?kita ambil satu perspektif lagi. ‘membaca’ berarti membaca buku yang tebalnya berhalaman-halaman. lagi-lagi, itu salah besar. bagiku lebih baik membaca satu paragraf yang bermakna ketimbang menghabiskan waktu dengan halaman-halaman tak jelas. buku tak dinilai dari tebalnya, tapi bagaimana buku itu bisa merubah cara pandang mu terhadap dunia.
bacaan memang dibutuhkan. bagi yang cerdas agar merasa bodoh dan tidak sombong. bagi yang bodoh agar menjadi cerdas dan lebih percaya diri.
aku tak bisa bilang kalau aku adalah penulis, kalau aku adalah pembaca. tapi, aku berani bilang kalau aku senang menulis, kalau aku senang membaca. aku tak bilang kalau setiap tulisan ku bagus, tapi aku berani bilang kalau setelah menulis perasaan ku lega, lepas. kadang aku merasa, dengan menulis, segalanya berubah indah, tak ada yang buruk. setelah menulis, semua menjadi lebih bernilai, lebih damai.
jujur, aku juga belum punya modal buat menulis sesuatu yang booming. yang ada dipikiranku hanyalah emosi. maka, aku juga berani katakan, kalau dirimu masih punya emosi, tak ada yang akan menghalangi dirimu untuk menulis, kecuali dirimu sendiri. tak perlu kata-kata sopan, tak perlu dibuat-buat. siapa yang peduli orang akan suka. siapa peduli. yang ada hanya dirimu, kertas dan pena. dunia ini milikmu sekarang, engkaulah Tuannya. semuanya harus tunduk pada apa yang telah kamu guratkan di atas kertas.
kadang, aku tertawa membaca tulisan-tulisan orang dewasa kini. cenderung menjilat, cenderung dibuat-buat. bagiku tulisan mereka mengumbar bualan semata, hanya demi keuntungan belaka. tak pernahkah dirimu mencoba mengamati guratan spidol seorang anak kecil?sekilas hanya coretan-coretan tak bernilai kan?tak jarang, dan sering kita tak mengerti apa yang ada diatas kertas mereka. itu karena mereka menulis dengan bahasa mereka,bahasa jiwa. bahasa ini murni adanya, tak dibuat-buat. kadang aku iri dengan mereka, adik-adikku. begitu bebas, begitu lepas mereka mengumbar emosi. tak ada yang ditahan, tak ada yang disembunyikan. semuanya keluar begitu saja, dengan cara-cara mereka sendiri. tak peduli apa kata orang, yang jelas aku puas, itu pikir mereka.
bagiku menulis seperti suatu yang tak bisa kutinggal. dulu, semua jejak yang kualami hanya bisa ku simpan dalam benak ini. namun belakangan, rasanya otak ku sudah mau pecah, seiring bertambah tuanya diri, tak sanggup lagi diisi dengan kenangan. tak ada cara lain, aku tak ingin semua nya hilang begitu saja. aku berangan ketika aku tua nanti, aku masih bisa tertawa mengenang ketololan ku ketika remaja, menangis mengingat kisah ‘hatiku’ yang terlupa, berkaca dengan masa laluku. mungkin ketika dirimu membaca tulisan-tulisanmu kini, engkau akan heran, kok tak ada bagus-bagus nya?namun ini adalah nilai waktu. cobalah engkau titipkan emosi dan perasaanmu di tiap tulisan. titikkan semangatmu di tiap huruf yang kau guratkan. tak perlu berhalaman-halaman, tak perlu berwarna. yang penting, di setiap titik dibubuhkan, ada kesan yang berbeda yang dapat engkau kenang, bersama anakmu, bersama cucumu kelak…
EK Sani
tiga
is this the right time?
is this the right place?
is this the right moment?
is this the ‘true one’?tak ada kata yang bisa terucap
tak ada…
apa yang bisa kuminta darimu?
tak ada…bukan ku tak mampu
bukan ku tak ingin
hati ini sudah lelah
hati ini sudah jengahlelah ‘tuk bertahan
jengah tuk berpurabukan
aku tak pernah bertahan
aku tak pernah berpurasampai kapan ku kan begini
aku tidak akan menunggu
aku tidak akan menunggu
karena aku tidak sedang menungguyang kuingin kini
kuingin dia mengetahui
kuingin dia mengerti
kuingin dia menyadaritak perlu
tak perlu dia menerima
tak perlu dia berubah
aku tidak perlu ituentah kapan engkau tahu
entah kapan engkau kan mengerti
mungkin hati ini belum mampu ‘tuk ungkap segalanya
namun seperti ini pun sudah indah adanya…
EK Sani
dua
Andai saja engkau tahu
resahku karena mu
Andai aku di benakmu
alangkah indah dunia
Bila ada satu nama ku rindu
slalu sebutkan dirimu
Seperti bintang indah matamu
andaikan sinarnya untuk aku
Seperti ombak debar jantungku
menanti jawaban muPernah aku dengar darimu
engkau kini sendiri
Namun adakah kau dengarkan aku
yang benar inginkan kamuMungkin aku terlalu
berharap yang tak tentu
Adakah aku
di hatimu(Seperti Bintang by Yovie and Nuno)
pernahkah dia tau?
akankah engkau mengerti?
lagu ini dariku untuk dirinya
lagu ini seperti aku padamu
EK Sani
leave a comment