dia t’lah berdiri
Dia t’lah berdiri, coba berlari
tak pernah dia jelang hidupkan yang inginkan
Kilau hari-hari dan birunya langit
Terhapus rasa indah indah terpejam oleh lelah
Lelah terpancar dari wajahnya yang kusam. Namun itu saja tidak akan cukup untuk menutupi lugunya. Rambut merah khas anak-anak jalanan, terpanggang panas matahari persimpangan. Di bahunya yang kecil mungil, digotong 2 cobekan sambal yang terbuat dari batu. Pasti berat, pikirku. Tapi sepertinya aku hanya bisa berpikir, belum bisa merasa…
Dalam lelahnya mata nikmat dunia menjelma
Seakan dia berharap malam tanpa batas
Bunda selalu tanamkan jangan pernah menyerah
Jalani dan panjatkan kelak syukur kau ucapkan
Tak hentinya dia menawarkan bawaaannya pada deretan mobil-mobil mewah di perempatan. Kakinya yang tak beralas, mulai melepuh dibakar aspal jalanan. Sekali-kali, dia duduk terpaku, menggugu. Sekali-kali dia hanya memandangi bawaanya yang tak kunjung dibeli orang. Sekali-kali wajahnya yang lelah tampak ingin menangis meratapi hidup, hidup yang tampak begitu kejam baginya. Tapi ratapannya terhenti. Terhenti oleh deruman mesin-mesin tak berperasaan.
Tidak, ratapan itu tidak untuk hari ini, tidak sekarang. Masih ada badan yang perlu diistirahatkan. Masih ada perut yang perlu diberi makan. Masih ada mata yang ingin dipejamkan. Tak ada waktu buat mengeluh, apalagi meratap. Apa bisa ratapan itu mengisi perutku yang keroncongan, pikirnya. Apa semua tangisan itu akan membuat orang iba?Bah, bahkan manusia pun sudah mulai tak berperasaan, sama saja seperti mesin besi berjalan itu. Mereka terlalu sibuk mengejar harta mereka, selalu tak puas.
Tapi dia lelah, dia penat. Sampai kapan dia akan begitu?Mungkin, hanya syukur yang bisa dipanjatkan. Syukur akan cobaan yang begitu mulia ini. Cobaan yang menempa dirinya tu selalu menatap asa. Syukur yang selalu akan menerangi hatinya, membukakan jalan ‘tuk menuju singgasana keikhlasan.
Pada dirinya ku mohonkan
Mudahkan hidupnya hiasi dengan belaimu
Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta
Terangi harinya dengan lembut mentarimu
Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka
Ya Tuhan, maafkan hamba-Mu ini yang tak hentinya mengeluh. Ucapan syukur yang t’lah lama tak terucap lisan. Kening ini yang t’lah lupa untuk bersujud syukur di hadap-Mu. Mohonku pada-Mu, sinarilah jiwanya dengan butiran-butiran rahmat dan keikhlasan. Ajari aku ‘tuk sekuat dirinya. Sekuat ia memanggul dagangannya. Sekuat ia ‘tuk tak tunduk pada kepasrahan. Sekuat ia yang terus berjalan, di tengah panasnya aspal jalanan…
EK Sani
leave a comment