Secangkir teh hangat 'tuk jiwa yang lelah,,,

dia t’lah berdiri

Posted in Uncategorized by evan on March 22, 2008

Dia t’lah berdiri, coba berlari

tak pernah dia jelang hidupkan yang inginkan

Kilau hari-hari dan birunya langit

Terhapus rasa indah indah terpejam oleh lelah

 

Lelah terpancar dari wajahnya yang kusam. Namun itu saja tidak akan cukup untuk menutupi lugunya. Rambut merah khas anak-anak jalanan, terpanggang panas matahari persimpangan. Di bahunya yang kecil mungil, digotong 2 cobekan sambal yang terbuat dari batu. Pasti berat, pikirku. Tapi sepertinya aku hanya bisa berpikir, belum bisa merasa…

 

Dalam lelahnya mata nikmat dunia menjelma

Seakan dia berharap malam tanpa batas

Bunda selalu tanamkan jangan pernah menyerah

Jalani dan panjatkan kelak syukur kau ucapkan

 

Tak hentinya dia menawarkan bawaaannya pada deretan mobil-mobil mewah di perempatan. Kakinya yang tak beralas, mulai melepuh dibakar aspal jalanan. Sekali-kali, dia duduk terpaku, menggugu. Sekali-kali dia hanya memandangi bawaanya yang tak kunjung dibeli orang. Sekali-kali wajahnya yang lelah tampak ingin menangis meratapi hidup, hidup yang tampak begitu kejam baginya. Tapi ratapannya terhenti. Terhenti oleh deruman mesin-mesin tak berperasaan.

Tidak, ratapan itu tidak untuk hari ini, tidak sekarang. Masih ada badan yang perlu diistirahatkan. Masih ada perut yang perlu diberi makan. Masih ada mata yang ingin dipejamkan. Tak ada waktu buat mengeluh, apalagi meratap. Apa bisa ratapan itu mengisi perutku yang keroncongan, pikirnya. Apa semua tangisan itu akan membuat orang iba?Bah, bahkan manusia pun sudah mulai tak berperasaan, sama saja seperti mesin besi berjalan itu. Mereka terlalu sibuk mengejar harta mereka, selalu tak puas.

Tapi dia lelah, dia penat. Sampai kapan dia akan begitu?Mungkin, hanya syukur yang bisa dipanjatkan. Syukur akan cobaan yang begitu mulia ini. Cobaan yang menempa dirinya tu selalu menatap asa. Syukur yang selalu akan menerangi hatinya, membukakan jalan ‘tuk menuju singgasana keikhlasan.

 

Pada dirinya ku mohonkan

Mudahkan hidupnya hiasi dengan belaimu

Sucikan tangan-tangan yang memegang erat harta

Terangi harinya dengan lembut mentarimu

Buka genggaman yang telah menjadi hak mereka

 

Ya Tuhan, maafkan hamba-Mu ini yang tak hentinya mengeluh. Ucapan syukur yang t’lah lama tak terucap lisan. Kening ini yang t’lah lupa untuk bersujud syukur di hadap-Mu. Mohonku pada-Mu, sinarilah jiwanya dengan butiran-butiran rahmat dan keikhlasan. Ajari aku ‘tuk sekuat dirinya. Sekuat ia memanggul dagangannya. Sekuat ia ‘tuk tak tunduk pada kepasrahan. Sekuat ia yang terus berjalan, di tengah panasnya aspal jalanan…

                                                                                                                                               EK Sani

 

Tagged with:

Leave a Reply