Secangkir teh hangat 'tuk jiwa yang lelah,,,

You’ll be in My Heart (by Phil Collins)

Posted in song of inspiration by evan on April 23, 2008

Come stop your crying
It will be all right
Just take my hand Hold it tight

I will protect you
from all around you
I will be here
Don’t you cry

For one so small,
you seem so strong
My arms will hold you,
keep you safe and warm
This bond between us
Can’t be broken
I will be here
Don’t you cry

‘Cause you’ll be in my heart
Yes, you’ll be in my heart
From this day on
Now and forever more

You’ll be in my heart
No matter what they say
You’ll be here in my heart, always

Why can’t they understand
the way we feel
They just don’t trust
what they can’t explain
I know we’re different but,
deep inside us
We’re not that different at all

And you’ll be in my heart
Yes, you’ll be in my heart
From this day on
Now and forever more

Don’t listen to them
‘Cause what do they know
We need each other,
to have, to hold
They’ll see in time
I know

When destiny calls you
You must be strong
I may not be with you
But you’ve got to hold on
They’ll see in time
I know
We’ll show them together

‘Cause you’ll be in my heart
Yes, you’ll be in my heart
From this day on,
Now and forever more

Oh, you’ll be in my heart
No matter what they say
You’ll be in my heart, always
Always

Udah lama ya gw ngga posting lirik?yaa mu gimana lagi coba, belakangan ini sibuk nya minta ampun. nah untuk mengobati kerinduan para penggemar (apa ini?), kali ini gw posting sebuah tembang kenangan nan cantik dari bang Phil Collins. Lagu ini klo ga salah merupakan OST dari sebuah film kartun Tarzan di akhir tahun 2000 (bener ga ya?). Pokoknya pas denger lagu ini, kesan “wow” muncul di imaji. Mantep lah suara si abang ini.

EK Sani

orang miskin dilarang sekolah?

Posted in headline, schooling by evan on April 16, 2008

hmm,sebenarnya sih lagi ga pengen posting serius,kadang pengen juga nulis-nulis ga jelas,nge-junk lah bahasa gaulnya (paradoks dengan cerminku,hwehehehe).

tapi apalah daya,yang ada dipikiran ini ga bisa ditahan2 lagi,jadinya serius lagi deh ^-^

pernah baca buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah” karangan Eko Prasetyo?. klo gw sih blum pernah baca buku nya tuntas,tapi udah review trailer nya. selain itu,gw juga udah pernah ngobrol langsung ama penulis nya juga. meski gw blum khatam tu bukunya,tapi yang menarik gw adalah idenya. pertanyaan muncul di pikiran gw adalah, “emang iya gitu orang misikin dilarang sekolah?”

mari kita tilik satu persatu fakta yang ada

percaya atau tidak,biaya pendidikan di negara ini masih terlalu tinggi. tentu saja ketika kita berbicara mengenai biaya,itu masalah relatif. nah masalahnya,ketika kita bicara masalah biaya di negara ini,itu bakal sensitif. liat aja tingkat kesejahteraan bangsa ini,meratakah?

terjadi suatu kesenjangan yang begitu signifikan ketika berhubungan dengan biaya. maksudku,coba bandingkan fasilitas. begitu miris nya kita melihat sekolah-sekolah yang dijalankan dengan biaya seadanya. mereka miskin fasilitas. yang mereka punya hanya papan tulis,kapur dan beberapa meja-kursi. punyakah mereka lab percobaan?punyakah mereka fasilitas kesehatan?atau malah punyakah mereka fasilitas internet?

tentu saja semua fasilitas yang didapatkan berbanding lurus dengan apa yang telah dibayarkan. nah klo gitu bagaimana dengan keadaan para orangtuayang hanya memiliki penghasilan terbatas?aku pikir tak ada orangtua yanga ingin anaknya telantar. mereka pasti ingin anaknya sekolah. namun apa mau dikata ketika uang mereka hanya cukup untuk makan saja?

kenyataan ini juga tercermin di kampusku. disana-sini begitu banyak laptop bertebaran. begitulah zaman sekarang,seolah-olah laptop sudah menjadi kebutuhan primer kuliah. minimal anak kampus punya komputer,itu katanya. nah bagaimana mereka yang tidak punya?terpaksa lah menumpang sana-sini. memang masih banyak diantara mereka yang tetap bisa bersaing. tapi tetap saja, apakah adil membandingkan sesuatu yang jelas-jelas tak ekuivalen?

untuk lebih mudah,mari kita ilustrasikan. anggaplah A merupakan mahasiswa yang pintar dan termasuk dalam golongan berkecukupan. kemudian ada si B,mahasiswa yang sama pintar nya dengan A,namun tidak berkecukupan. nah,mana yang bakal tumbuh lebih cepat pengetahuannya,A atau B?mungkin mereka sama-sama pintar,tapi si A memiliki fasilitas yang lebih daripada B. si A lebih banyak sumber untuk belajar ketimbang B. tentu saja si B bakal ketinggalan.

inilah paradoks di dunia pendidikan kita. yang kaya makin pinter,yang miskin makin bego. sistem kitalah yang menuntut seperti itu. tugas-tugas sudah di komputerisasi semua, meski fasilitas untuk itu belum memadai. bukannya gw menolak globalisasi seperti ini. yang gw herankan,sudah siapakah kita?

pendidikan ini perlu penyetaraan. semua masyarakat berhak mendapatkan hak yang sama. tak ada lagi kata, yang kaya mendapatkan yang lebih daripada si miskin. bukannya pendidikan adalah tanggung jawab negara?klo memang lagi ga ada uang ya ngga papa,tapi kenyataannya masi ada kok pejabat yang sempat2 nyilep uang negara.apa itu namanya?

semoga nanti pendidikan ini bisa berjalan semestinya,semua mendapatkan hak yang sama, si kaya dan si miskin bisa jadi sama2 pintar.

EK Sani

dilematis

Posted in Uncategorized by evan on April 10, 2008

pernah ga klo kamu ngerasa salah ketika berkata jujur?

atau pernahkah kamu merasa menyesal ketika kamu melakukan suatu kebaikan?

hmmmm,setelah sekian lama diri ini tak menulis, dan setelah sekian lama diri ini dalam perenungan, akhirnya publish juga postingan ini (bukan basa-basi ^-^)

yak, pertanyaan diatas bukanlah sekedar preambule belaka. jadi begini ceritanya, tadi tu kan kita bakal kuliah , ternyata pas masuk ruangan yang dateng baru dikit. mulai dah si dosen uring-uringan. mulai lah si bapak mengeluarkan petatah-petitih tak jelas. gw nya cuma nguap-nguap di belakang sembari ngerjain laporan. nah di saat yang tidak tepat ini, datenglah seorang mahasiswa tingkat atas ke dalam kelas

dosen: lho, dari mana kamu?

mahasiswa: maaf pak saya telat

dosen: jam berapa ini,tau ga klo kamu udah terlambat?

mahasiswa: iya pak, saya tau

dosen: kenapa kamu terlambat?

mahasiswa: tadi saya nolongin orang yang kecelakaan pak

dosen: kamu yang kecelakaan?

mahasiswa: bukan pak, tapi saya nolongin orang yang kecelakaan pak

dosen: wah saya ga mau tau itu, yang penting kamu telat kan

mahasiswa: kan ga mungkin saya ninggalin orang itu kan pak

dosen: tetep aja saya ga mau tau,yang penting kamu tu udah telat. klo mau masuk kamu nyanyi dulu sana di depan labtek keras-keras.

mahasiswa: (menunduk,berjalan ke luar,menutup pintu dengan keras)

gw langsung berhenti ngerjain laporan, terhenyak ngeliatnya. si dosen lantas berkata kurang lebih seperti ini,

alasan sekarang sudah terlalu dibuat-buat, sampai-sampai saya tidak tahu mana yang benar mana yang salah. tapi bagaimana pun,saya juga harus tetap konsisten dengan apa yang saya katakan.

yang ada di pikiran gw saat itu adalah, “yakin ga klo mahasiswa tadi beneran bo’ong?”. yaa,klo emang bo’ong sih ga papa, mudah2an dia nya jera. tapi klo ternyata dia emang bener dan jujur?

gw lebih prefer ngebahas klo si mahasiswa tadi emang beneran jujur. bayangin aja, mahasiswa itu dah dengan senang hati riang gembira (berlebihan ding) bakal berangkat ke kampus buat kuliah. pas di jalan, eh ada yang kecelakaan. lalu lagi2 dengan senang hati riang gembira (malah diulang ^-^), mahasiswa tersebut ngebantuin orang kecelakaan itu. alhasil, si mahasiswa telat kuliah. pas masuk kelas, si mahasiswa ngomong apa adanya tentang yang dialami pas di jalan tadi. berharap sang dosen mengerti, yang ada dia nya malah dipermalukan di depan kelas sembari disuruh nyanyi2 ga jelas di depan labtek.

apa yang mahasiswa itu rasakan?

inilah yang membuat segalanya di dunia ini menjadi serba tak jelas. ketika dirimu berkata jujur, sebuah pistol tertahan di dahimu. ketika dirimu menawarkan suatu kebaikan, orang lain mengumpat terhadapmu.

terkadang berkata jujur itu menyakitkan, karena dunia ini sudah begitu begitu blur tentang mana yang benar dan mana yang salah. dan terkadang, tidak semua kebaikanmu akan membuat orang terkesima, karena tak akan semua orang yang percaya tentang itu.

namun pentingkah itu semua?tidak, gw jawab tidak. tidak penting orang menafikan kejujuranmu. tak penting orang naif terhadap kebaikan dirimu. yang penting hanyalah, apa yang telah kamu lakukan dan apa yang kamu lakukan. terserah apa yang mereka ingin katakan dan ingin perbuat. klo ga salah gw pernah mendengar suatu syair yang indah, klo ga salah kayak gini,

ketika dirimu telah berkata dan berbuat sesuatu kebenaran dan kebaikan, niscaya hatimu kan mekar dan bersemi indah. sudah selayaknya lah kamu berbahagia atas itu, meski tak ada satu orang pun yang tau

klo gw ada di posisi mahasiswa yang beruntung itu, gw bakal dengan senang hati keluar dari kelas. karena paling tidak,gw diusir dari kelas bukan karena sesuatu yang buruk, dan gw ga akan pernah menyesal tentang itu ^-^

Tagged with:

enam

Posted in Uncategorized by evan on April 2, 2008

Where is the moment when we need it the most
You kick up the leaves and the magic is lost
They tell me your blue sky’s faded to grey
They tell me your passion’s gone away
And I don’t need no carrying on

You stand in the line just to hit a new low
You’re faking a smile with the coffee to go
You tell me your life’s been way off line
You’re falling to pieces every time
And I don’t need no carrying on

***
Cause you had a bad day
You’re taking one down
You sing a sad song just to turn it around
You say you don’t know
You tell me don’t lie
You work at a smile and you go for a ride
You had a bad day
The camera don’t lie
You’re coming back down and you really don’t mind
You had a bad day
You had a bad day

Well you need a blue sky holiday
The point is they laugh at what you say
And I don’t need no carrying on

Sometimes the system goes on the blink and the whole thing it turns out
Wrong
You might not make it back and you know that you could be well oh that
Strong
Well I’m not wrong

So where is the passion when you need it the most
Oh you and I
You kick up the leaves and the magic is lost

(Bad Day with Alvin and Chipmunks version)

lagu ini untukku, lagu ini untukmu.
so,keep on fighting

EK Sani

Tagged with: