Polemik Berjilbab: Menutup Aurat atau Menutup Kepala ?
Kenapa kamu belum memakai jilbab ?
Hidayah itu belum datang kepada saya.Kenapa kamu memakai jilbab ?
Karena demikianlah yang diperintahkan oleh agama.
Polemik berjilbab, belakangan kembali marak akibat hebohnya pemberitaan mengenai terpilihnya Putri Indonesia 2009 asal Aceh beberapa waktu lalu. Diberitakan bahwa Qory Sandioriva (Putri Indonesia 2009 .red) telah melepas jilbanya untuk mengikuti salahsatu ajang kecantikan di tanah air (baca selengkapnya di sini dan sini :p). Sesaat setelah terpilihnya Putri perwakilan dari Aceh ini, mendadak beberapa dari teman saya memasang status Facebook untuk mengecam terpilihnya Putri Aceh tersebut dengan alasan melepas jilbabnya.
Kemudian beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah video, yang merupakan rekaman tayangan sebuah stasiun televisi lokal, berjudul “Lebaran bersama Keluarga Shihab”. Dalam salahsatu episodenya, terdapat hal yang menarik perhatian saya dimana seorang penonton, ibu-ibu, bertanya perihal jilbab kepada Quraish Shihab. Berikut cuplikan link dari video tersebut, (lihat pada menit 07.00 hingga selesai)
watch?v=t-yVRjW7IdA&feature=PlayList&p=6E89F51ED11526CE&index=5
Jawaban dari Pak Quraish Shihab saya rasa tepat. Beliau lebih mengutamakan cara komunikasi yang bersahabat, tanpa terkesan memberikan pandangan yang takutnya nanti menjadi suatu keharusan (terlepas bahwa Najwa sendiri belum memakai jilbab ^^). Kebanyakan dari kita terlalu senang untuk menghakimi sesuatu, tidak jarang tanpa memiliki ilmu yang dalam dan pengetahuan yang cukup akan hal tersebut. Bahkan para alim ulama sendiri, yang jelas-jelas memiliki capability untuk berdebat tentang masalah ini, masih belum menemukan karakteristik yang cukup menjelaskan mengenai jilbab itu sendiri.
Saya pun merasa belum memiliki ilmu yang cukup mengenai jilbab dan aurat. Namun jikalau diminta beropini pribadi, saya menyenangi perempuan yang memakai jilbab, yang lebih mengutamakan fungsi dari jilbab itu sendiri. Saya juga suka dengan model-model jilbab yang indah dan modis, namun jangan sampai menghilangkan esensi berjilbab itu sendiri. Salahsatu fungsi dari jilbab bagi saya adalah untuk menghindari pandangan-pandangan yang memancing ke arah kemaksiatan. Para perempuan yang memakai jilbab bagi saya terlihat anggun, terlihat menjaga dirinya dari pandangan-pandangan sekitar yang tidak baik. Ini bukan berarti juga saya membenci perempuan yang tidak berjilbab. Banyak dari mereka mungkin tidak berjilbab (baca: menutup kepala dan rambutnya), namun mereka tetap memakai pakaian terhormat, yang tidak menampakkan apa yang seharusnya tidak terlihat. Yang menurut saya tidak baik adalah mereka yang berpakaian dengan tidak menjaga kehormatan pribadi mereka, memancing pandangan-pandangan yang mengarah kepada kemaksiatan.
Sebelumnya saya juga pernah berdebat dengan seorang Doktor lulusan EHESS Prancis dalam bidang Kebudayaan (jikalau saya tidak salah). Beliau bertanya tentang kepentingan seorang wanita memakai jilbab. Beliau dengan tegas mendebat saya bahwa jilbab sekarang hanya sebagai atribut fashion belaka. Bahkan beliau dengan berani membeberkan fakta bahwa sejumlah siswi dan mahasiswi memakai jilbab untuk menutupi bekas perbuatan maksiat mereka (masyaAllah). Saya jujur sedih dengan fakta yang demikian. Mungkin inilah sebab argumen yang diajukan oleh beberapa orang, bahwa kita sering memakai atau mengenakan sesuatu, tapi cenderung dengan alasan ikut-ikutan dan tanpa mengetahui apa maksud dan fungsi sebenarnya.
Akhirnya, mari kita berdakwah lebih ke arah manfaat, bukan malah menjelek-jelekan satu dan lainnya. Saya disini hanya ingin memberikan pandangan, bukan menghakimi. Mari kita jaga keluarga, kerabat dan teman-teman untuk selalu berpakaian dengan terhormat, untuk menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Nya. Semoga Allah selalu memberikan hidayah kepada hamba-hamba Nya yang taat.
EK Sani
Berpikir lebih bijak : Permasalahan Indonesia-Malaysia
Minggu yang lalu aku berkunjung ke kontrakan salahsatu temanku, Arif namanya, Muhammad Arif. Aku diundang untuk berbuka puasa bersama, dengan hidangan yang dia sediakan seadanya. Kebetulan hari itu aku kebingungan akan berbuka dengan apa, di kamarku belum ada-apa, nasi pun tak ada untuk dijadikan makan malam sehabis berbuka. Alhamdulillah, ini karunia Tuhan aku kira.
Setiba di kamarnya, kami berbuka dengan secangkir teh kemasan dengan aroma apple, cukup untuk menghilangkan dahaga. Kemudian kami pun makan malam seadanya, dengan gulai daging khas masakan pemuda single seperti kami. Alhamdulillah, kenyang rasanya setelah berbuka. Sehabis makan, seperti biasa dia membakar tembakaunya, duduk menghadap keluar di jendela, menikmati udara luar. Aku dihidangkan 2 toples kue kering, yang dia bilang adalah kue lebaran yang dia bawa dari negaranya. Aku bertanya, apakah tidak apa dimakan sekarang ?. Dia bilang, tak apalah dimakan sekarang, sambil tersenyum. Akhirnya setelah merokok, dia mengambil beberapa kue kering, dan aku pun ikut serta. Kami pun bercengkrama tentang banyak hal, tentang keseharian di negeri orang ini, masa depan serta persamaan dan pengalaman di negara kami masing-masing.
Negara masing-masing ?. Ya, Muhammad Arif adalah seorang Malaysia. Seorang penduduk yang negaranya sedang akrab di telinga rakyat kita, sedang dicaci maki, sumpah serapah oleh rakyat kita. Seorang yang negaranya begitu terkenal di media masyarakat kita, yang katanya gemar melakukan klaim sana-sini dengan budaya negara kita.
Aku seorang Indonesia, seorang yang juga memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tak boleh diganggu gugat. Aku seorang Indonesia, yang meski sedikit, mengerti akan kekayaan budaya Indonesia. Aku juga seorang Indonesia, yang juga pernah aktif untuk melestarikan dan menjaga salahsatu kebudayaan Indonesia. Namun aku seorang Indonesia, yang prihatin akan kedewasaan berpikir kita dan media informasi negara kita.
Aku tidak habis pikir dengan macam pemberitaan di media nasional. Berbagai sorotan negatif selalu muncul, bak tak ada hal-hal positif yang bisa diambil. Beberapa oknum melakukan reaksi yang luarbiasa brutal menurutku. Begitu banyak tindakan-tindakan anarkis, pembakaran bendera, munculnya nama “Malingsia” dan sebagainya, pengejekan dan pencacian di jejaring-jejaring sosial dunia maya. Bahkan beberapa temanku memasang status yang jelas-jelas mengundang permusuhan, yang menurutku tanpa sama sekali menunjukkan rasa nasionalisme akan negaranya. Artis dan public figur ikut-ikutan berkomentar, mengejek memancing permusuhan. Jujur, aku prihatin dengan semua ini.
Balada Sebatang Rokok
Anda kenal rokok ?. Pada usia berapa Anda mulai menghirup asap rokok ?. Apakah Anda hidup di lingkungan perokok ?. Berapa orang perokok yang Anda lihat setiap harinya, menghembuskan asap beracun di hadapan Anda ?. Berapa banyak ajakan merokok yang telah Anda terima selama Anda hidup ?. Atau, seberapa besar uang yang Anda depositkan untuk rokok tiap bulannya ?.

Pertanyaan diatas hanya sekumpulan pertanyaan, yang boleh jadi Anda bisa jawab sendiri, atau Anda ucapkan sekeras mungkin, namun lebih baik jikalau dituliskan di comment box di bawah :p. Saya pun nantinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan penjelasan berbagai sisi. Mungkin tulisan ini bisa kembali mengasah kemampuan analisis saya yang sudah lama tertimbun dalam-dalam, seiring waktu blog ini sudah terkubur dalam arus *update-an status f.c.b.o.k*
.
Yap, saya kenal rokok, begitu kenal. Saya sudah menghirup asap rokok sejak saya tahu kalau yang saya hirup itu asap rokok, karena mayoritas laki-laki di keluarga saya adalah perokok. Saya juga hidup di kalangan perokok, teman-teman saya perokok, bukan suatu keanehan jikalau saya berada di tengah kerumunan orang dengan tembakau berasap di mulut mereka. Sudah begitu banyak ajakan, rayuan agar saya merokok. Tentunya dari teman-teman sepermainan, karena keluarga begitu melarang saya untuk menghisap tembakau. Sampai sekarang saya bukanlah perokok dan tidak pernah merokok, bukan karena larangan mereka, tapi karena kemampuan berpikir saya menyimpulkan bahwa saya tidak akan jadi perokok, itu saja.
Saya bukanlah orang yang membenci perokok, teman-teman saya banyak yang merokok. Saya sudah terbiasa bergaul dengan mereka, selalu ditawari sebatang tembakau saat bercengkrama (meski saya tolak dalam-dalam). Bagi saya itu merupakan pilihan mereka, cara yang ingin mereka jalani dalam hidup mereka. Saya memilih untuk tidak merokok, dan mereka memilih untuk menikmati rokok. Tidak ada bedanya, kami sama-sama memilih. Namun, tentunya pilihan itu harus dibuat sendiri, dengan kedewasaan berpikir dan menentukan baik-buruknya.
pilih mana, permen atau saham?
ada yang bingung dengan judul diatas?
ga usah bingung. sederhananya, ditengah ledakan ekonomi global yang merambah seluruh aspek di berbagai negara ini, ada berbagai macam analogi yang sederhana yang dapat dipahami anak SD pun.
Siapa yg tidak tw klo coorporation sebesar Lehman Brothers bisa jatuh tersungkur, bankrupt? Apa ada yang dengar klo sejumlah perusahaan-perusahaan ternama di Eropa dan Jepang berlomba memecat para karyawannya dan segera melakukan proyeksi laba tahun 2009? Siapa yang ga sadar bahkan saham perusahaan si pak menteri juga ikutan kena imbas, sampai-sampai menimbulkan permasalahan internal di kabinet negeri impian?Pernah nukar $1 = 12.650 IDR ?
Begitu parahnya guncangan ekonomi kali ini, sampai-sampai Bu Sri Mulyani Indrawati musti ‘melek’ mulu melihat pergerakan (atau mungkin merangkaknya) indeks ekonomi. Panik, para exportir kelabakan. Negara pengimpor mendadak menurunkan pembelian komoditas dari luar, menyesuaikan dengan neraca. Pasar lesu, uang yang mw dibelanjakan mulai langka.
bahkan, apakah anda percaya, saham dari sebuah perusahaan kini harga nya tak jauh berbeda dengan harga secuil permen cokelat?
jadi pilih mana, permen atw saham?
EK Sani
orang miskin dilarang sekolah?
hmm,sebenarnya sih lagi ga pengen posting serius,kadang pengen juga nulis-nulis ga jelas,nge-junk lah bahasa gaulnya (paradoks dengan cerminku,hwehehehe).
tapi apalah daya,yang ada dipikiran ini ga bisa ditahan2 lagi,jadinya serius lagi deh ^-^
pernah baca buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah” karangan Eko Prasetyo?. klo gw sih blum pernah baca buku nya tuntas,tapi udah review trailer nya. selain itu,gw juga udah pernah ngobrol langsung ama penulis nya juga. meski gw blum khatam tu bukunya,tapi yang menarik gw adalah idenya. pertanyaan muncul di pikiran gw adalah, “emang iya gitu orang misikin dilarang sekolah?”
mari kita tilik satu persatu fakta yang ada
percaya atau tidak,biaya pendidikan di negara ini masih terlalu tinggi. tentu saja ketika kita berbicara mengenai biaya,itu masalah relatif. nah masalahnya,ketika kita bicara masalah biaya di negara ini,itu bakal sensitif. liat aja tingkat kesejahteraan bangsa ini,meratakah?
terjadi suatu kesenjangan yang begitu signifikan ketika berhubungan dengan biaya. maksudku,coba bandingkan fasilitas. begitu miris nya kita melihat sekolah-sekolah yang dijalankan dengan biaya seadanya. mereka miskin fasilitas. yang mereka punya hanya papan tulis,kapur dan beberapa meja-kursi. punyakah mereka lab percobaan?punyakah mereka fasilitas kesehatan?atau malah punyakah mereka fasilitas internet?
tentu saja semua fasilitas yang didapatkan berbanding lurus dengan apa yang telah dibayarkan. nah klo gitu bagaimana dengan keadaan para orangtuayang hanya memiliki penghasilan terbatas?aku pikir tak ada orangtua yanga ingin anaknya telantar. mereka pasti ingin anaknya sekolah. namun apa mau dikata ketika uang mereka hanya cukup untuk makan saja?
kenyataan ini juga tercermin di kampusku. disana-sini begitu banyak laptop bertebaran. begitulah zaman sekarang,seolah-olah laptop sudah menjadi kebutuhan primer kuliah. minimal anak kampus punya komputer,itu katanya. nah bagaimana mereka yang tidak punya?terpaksa lah menumpang sana-sini. memang masih banyak diantara mereka yang tetap bisa bersaing. tapi tetap saja, apakah adil membandingkan sesuatu yang jelas-jelas tak ekuivalen?
untuk lebih mudah,mari kita ilustrasikan. anggaplah A merupakan mahasiswa yang pintar dan termasuk dalam golongan berkecukupan. kemudian ada si B,mahasiswa yang sama pintar nya dengan A,namun tidak berkecukupan. nah,mana yang bakal tumbuh lebih cepat pengetahuannya,A atau B?mungkin mereka sama-sama pintar,tapi si A memiliki fasilitas yang lebih daripada B. si A lebih banyak sumber untuk belajar ketimbang B. tentu saja si B bakal ketinggalan.
inilah paradoks di dunia pendidikan kita. yang kaya makin pinter,yang miskin makin bego. sistem kitalah yang menuntut seperti itu. tugas-tugas sudah di komputerisasi semua, meski fasilitas untuk itu belum memadai. bukannya gw menolak globalisasi seperti ini. yang gw herankan,sudah siapakah kita?
pendidikan ini perlu penyetaraan. semua masyarakat berhak mendapatkan hak yang sama. tak ada lagi kata, yang kaya mendapatkan yang lebih daripada si miskin. bukannya pendidikan adalah tanggung jawab negara?klo memang lagi ga ada uang ya ngga papa,tapi kenyataannya masi ada kok pejabat yang sempat2 nyilep uang negara.apa itu namanya?
semoga nanti pendidikan ini bisa berjalan semestinya,semua mendapatkan hak yang sama, si kaya dan si miskin bisa jadi sama2 pintar.
EK Sani
8 comments