Secangkir teh hangat 'tuk jiwa yang lelah,,,

Balada Sebatang Rokok

Posted in community, headline by evan on August 18, 2009

Anda kenal rokok ?. Pada usia berapa Anda mulai menghirup asap rokok ?. Apakah Anda hidup di lingkungan perokok ?. Berapa orang perokok yang Anda lihat setiap harinya, menghembuskan asap beracun di hadapan Anda ?. Berapa banyak ajakan merokok yang telah Anda terima selama Anda hidup ?. Atau, seberapa besar uang yang Anda depositkan untuk rokok tiap bulannya ?.

Pertanyaan diatas hanya sekumpulan pertanyaan, yang boleh jadi Anda bisa jawab sendiri, atau Anda ucapkan sekeras mungkin, namun lebih baik jikalau dituliskan di comment box di bawah :p. Saya pun nantinya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dengan penjelasan berbagai sisi. Mungkin tulisan  ini bisa kembali mengasah kemampuan analisis saya yang sudah lama tertimbun dalam-dalam, seiring waktu blog ini sudah terkubur dalam arus *update-an status f.c.b.o.k* :D.

Yap, saya kenal rokok, begitu kenal. Saya sudah menghirup asap rokok sejak saya tahu kalau yang saya hirup itu asap rokok, karena mayoritas laki-laki di keluarga saya adalah perokok. Saya juga hidup di kalangan perokok, teman-teman saya perokok, bukan suatu keanehan jikalau saya berada di tengah kerumunan orang dengan tembakau berasap di mulut mereka. Sudah begitu banyak ajakan, rayuan agar saya merokok. Tentunya dari teman-teman sepermainan, karena keluarga begitu melarang saya untuk menghisap tembakau. Sampai sekarang saya bukanlah perokok dan tidak pernah merokok, bukan karena larangan mereka, tapi karena kemampuan berpikir saya menyimpulkan bahwa saya tidak akan jadi perokok, itu saja.

Saya bukanlah orang yang membenci perokok, teman-teman saya banyak yang merokok. Saya sudah terbiasa bergaul dengan mereka, selalu ditawari sebatang tembakau saat bercengkrama (meski saya tolak dalam-dalam).  Bagi saya itu merupakan pilihan mereka, cara yang ingin mereka jalani dalam hidup mereka. Saya memilih untuk tidak merokok, dan mereka memilih untuk menikmati rokok. Tidak ada bedanya, kami sama-sama memilih. Namun, tentunya pilihan itu harus dibuat sendiri, dengan kedewasaan berpikir dan menentukan baik-buruknya.

Permasalahannya sekarang adalah ternyata, masyarakat kita terlalu larut dalam budaya ikut-ikutan. Begitu banyak anak-anak di bawah umur sudah menyelipkan sebatang tembakau di mulut mereka sembari bermain berlari bersama teman sebaya. Sudah menjadi budaya jikalau para siswa menghembuskan asap di kamar kecil sekolah mereka, menghilang dari kegiatan belajar-mengajar. Berikut kutipan dari media surat kabar yang menggambarkan kenyataan tersebut

Usia perokok pemula di Indonesia makin muda. Kondisi ini disebabkan tidak adanya peraturan perundangan yang melarang anak-anak merokok. Apalagi kalangan industri rokok gencar beriklan dengan sasaran utama kalangan remaja. Jika tidak segera diantisipasi, maka jumlah perokok di kalangan anak dan remaja akan meningkat pesat dalam beberapa tahun ke depan. [Kompas, Sabtu 7 Juni 2008].

Regulasi Negara ini begitu longgar dalam permasalahan peredaran rokok. Sekarang coba Anda yang perokok, Anda suruh adik atau anak Anda yang masih dibawah umur, untuk membelikan Anda sebungkus rokok di warung dekat rumah. Bisa bukan ?. Atau Anda termasuk yang sering melakukan hal demikian ?. Bayangkan, seorang anak berumur 7 hingga 10 tahun bisa membelikan sebungkus rokok untuk ayah atau abangnya di warung dekat rumah. Begitu mudahnya kita mendapatkan sebungkus rokok, begitu murahnya kita membeli sebatang rokok, hanya dengan 700 rupiah kita sudah bisa menghirup asap rokok, menimbunnya dalam-dalam hingga terendap hitam dalam paru-paru. 700 rupiah, bahkan lebih murah daripada sebungkus roti di jaman ini. Begitu teganya Anda menyuruh seorang bocah untuk membelikan Anda rokok, dan Anda melarang mereka untuk merokok ?. Anda belum mampu untuk berpikir jikalau demikian.

Analogi diatas hanya untuk menggambarkan, begitu tidak mungkinnya kita untuk menghalang-halangi para generasi muda kita untuk merokok. Kita seolah-olah melarang, alih-alih mengijinkan. Saya tidak melarang Anda untuk merokok, namun bagi yang memutuskan untuk merokok, tolong putuskan itu setelah Anda bisa berpikir baik-buruknya, setelah Anda mencapai tingkat kedewasaan yang diijinkan. Akankah kita rela di suatu jaman nanti, seorang anak merengek meminta dibelikan rokok kepada ayahnya, bukan minta dibelikan permen lollipop seperti yang lazim kita rasakan beberapa tahun lalu ?.

Tidak bisa dipungkiri, industri rokok juga menjadi salahsatu tonggak di negara ini. Sudah banyak debat yang saya saksikan dan baca, mengenai masa depan industri rokok, jikalau memang rokok akhirnya dilarang di negeri ini. Begitu banyak buruh yang akan jadi pengangguran, kehilangan mata pencaharian. Begitu banyak para petani tembakau yang tak mampu lagi memberi makan anak-anak mereka. Tanah-tanah sisa penanaman tembakau tak bisa lagi ditanami tanaman lain. Begitu banyak alasan yang dikemukakan, hingga akhirnya rokok masih bertahan dengan tahtanya di kantong Anda masing-masing. Bukan, itu bukan alasan belaka, itu kenyataan yang akan terjadi ke depannya.

Hanya sebagai referensi, saya mengalami regulasi ini di negeri orang, Jepang. Disini, perokok bukanlah hal yang aneh, demikian yang seperti kita rasakan di Indonesia. Hanya saja, saya merasa lebih nyaman disini, lebih bebas menghirup udara segar. Dan yang paling saya senangi, saya tidak pernah melihat seorang siswa SD atau SMP bahkan SMA merokok di depan saya. Kenapa hal ini bisa terjadi ? Mengapa di daerah asal saya, dengan mudahnya kita temui para siswa merokok di terminal sambil menunggu angkutan umum ?.

Di Jepang, seseorang dianggap dewasa jikalau sudah mencapai usia 20 tahun. Di bawah itu, seseorang masih dianggap tanggungan penuh kedua orangtuanya. Dan artinya seseorang hanya boleh membeli dan merokok ketika sudah berumur 20 tahun. Bahkan saya sendiri belum boleh membeli rokok disini (saya berumur 19 tahun). Bayangkan, begitu paradoksnya regulasi yang ada, dimana di negeri saya berasal seorang anak berumur 7 tahun sudah dengan bebasnya berbagi sebatang rokok dengan teman-temannya.

Untuk membeli rokok, seseorang harus menunjukkan suatu kartu khusus pada mesin penjual rokok. Kartu tersebut didapatkan setelah melakukan semacam pendaftaran untuk membeli rokok. Pendaftaran itu hanya bisa dilakukan jikalau pendaftar sudah mencapai umur 20 tahun, yang tercantum pada identitas si pendaftar itu sendiri. Tanpa kartu khusus ini, jangan harap Anda bisa membeli rokok disini. Selain itu, seseorang tidak bisa merokok dengan bebas. Mereka hanya diijinkan merokok pada tempat-tempat tertentu yang terdapat tanda *boleh merokok*. Tak ada ceritanya kita dengan bebas mengasap di kantor, dalam angkutan umum, di area-area publik. Disini orang menyingkir dari kumpulan orang-orang untuk merokok, bukan malah menghembuskan asap tembakau dengan bangganya di tengah kerumunan orang.

Nikko-CigaretteVendingMachine-Nikko(1)

Adalah hampir suatu ketidakmungkinan untuk menghentikan peredaran rokok di Indonesia. Namun, apakah kita tidak bisa melakukan regulasi yang lebih baik, guna menjaga generasi muda kita ?. Menjaga mereka agar bisa memutuskan dengan baik, bukan karena ajakan orang-orang ketika mereka berada di bawah umur. Meskipun nantinya mereka memilih untuk merokok, mereka memilih berdasarkan pilihan dan keinginan mereka sendiri, setelah mereka berada pada kedewasaan untuk berpikir.

Dengan cara ini apakah pendapatan negara dari industri rokok akan berkurang ?. Tentu saja tidak. Harga rokok di Indonesia termasuk yang paling murah. Mengapa harga rokok begitu murah, sehingga bahkan seorang supir angkot merasa lebih baik menahan lapar ketimbang menahan diri dari rokok ?. Dengan menaikkan harga rokok, para petani tembakau akan lebih sejahtera, tembakau mereka dihargai lebih tinggi. Para buruh tetap bekerja di pabrik tembakau, dengan kesejahteraan yang lebih baik. Dan aspek pentingnya, tidak semua orang yang bisa merokok, karena rokok hanya ditujukan pada orang-orang tertentu, dengan aspek kemampuan masing-masing.

Sekali lagi saya tidak akan melarang Anda untuk merokok, itu bukan hak saya, itu pilihan Anda. Yang saya minta hanyalah, mari kita jaga bersama generasi muda kita, kita jaga mereka hingga nantinya mereka bisa memilih apa yang sesuai untuk diri mereka. Saya sangat menghargai para perokok, karena kita sama-sama memilih untuk hidup kita masing-masing. Salam damai dari saya, semoga kita bisa membentuk lingkungan yang lebih baik di masa akan datang.

Environment-1244063123

EK Sani

Advertisements

5 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. reiSHA said, on August 18, 2009 at 4:11 pm

    Barek mah. No smoking se lah pokoknyo. Haram. 😀

  2. buwel said, on October 3, 2009 at 12:44 am

    Moga aku bisa berhenti meROKOK ya….

  3. toeid said, on October 14, 2009 at 5:53 pm

    Barek tulisan evan mah.,

    postingannnya satu kategori samo tulisan bugil.,
    tp klo bugil kata2nya blak2an., he2.,

    silahkan di lihat :

    http://willyafurqan.wordpress.com/2009/10/12/ngisi-waktu-luang/

  4. rera said, on November 2, 2009 at 4:45 am

    apa kata DUNIA?
    kasihan dunia kita ini, lama2 penuh dengan asap rokok, sungguh sebuah fenomena yang memprihatinkan..

  5. pitoek said, on December 1, 2009 at 11:54 am

    no rokok im cry


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: