Secangkir teh hangat 'tuk jiwa yang lelah,,,

Berpikir lebih bijak : Permasalahan Indonesia-Malaysia

Posted in community, headline by evan on September 5, 2009
Minggu yang lalu aku berkunjung ke kontrakan salahsatu temanku,Arif namanya,Muhammad Arif. Aku diundang untuk
berbuka bersama,dengan hidangan yang dia sediakan. Kebetulan hari itu aku kebingungan akan berbuka dengan apa,di
kamarku belum ada-apa,nasi pun tak ada untuk dijadikan makan malam sehabis berbuka. Alhamdulillah,ini karunia
Tuhan aku kira.
Setiba di kamarnya,kami berbuka dengan secangkir teh kemasan dengan aroma apple,cukup untuk menghilangkan dahaga.
Kemudian kami pun makan malam seadanya,dengan gulai daging khas masakan pemuda single seperti kami.
Alhamdulillah,kenyang rasanya setelah berbuka. Sehabis makan,seperti biasa dia membakar tembakaunya,duduk
menghadap keluar di jendela,menikamati udara luar. Aku dihidangkan 2 toples kue kering,yang dia bilang adalah kue
lebaran yang dia bawa dari negaranya. Aku bertanya,apakah tidak apa dimakan sekarang ?. Dia bilang,tak apalah
dimakan sekarang,sambil tersenyum. Akhirnya setelah merokok,dia mengambil beberapa kue kering,dan aku pun ikut
serta. Kami pun bercengkrama tentang banyak hal,tentang keseharian,masa depan serta persamaan dan pengalaman di
negara kami masing-masing.
Negara masing-masing ?. Ya,Muhammad Arif adalah seorang Malaysia. Seorang penduduk yang negaranya sedang akrab di
telinga rakyat kita,sedang dicaci maki,sumpah serapah oleh rakyat kita. Seorang yang negaranya begitu terkenal di
media masyarakat kita,yang katanya gemar melakukan klaim sana-sini dengan budaya negara kita.
Aku seorang Indonesia,seorang yang juga memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tak boleh diganggu gugat.
Aku seorang Indonesia,yang meski sedikit,mengerti akan kekayaan budaya Indonesia. Aku juga seorang Indonesia,yang
juga pernah aktif untuk melestarikan dan menjaga salahsatu kebudayaan Indonesia. Namun aku seorang Indonesia,yang
prihatin akan kedewasaan dan media informasi negara kita.
Aku tidak habis pikir dengan macam pemberitaan di media kita. Berbagai sorotan negatif selalu muncul,bak tak ada
hal-hal positif yang bisa diambil. Beberapa oknum melakukan reaksi yang luarbiasa brutal menurutku. Begitu banyak
tindakan-tindakan anarkis,pembakaran bendera,munculnya nama “Malingsia” dan sebagainya,pengejekan dan pencacian di
jejaring-jejaring sosial dunia maya. Bahkan beberapa temanku memasang status yang jelas-jelas mengundang
permusuhan,yang menurutku tanpa sama sekali menunjukkan rasa nasionalisme akan negaranya. Jujur,aku prihatin
dengan semua ini.
Tak pernahkah kita berusaha untuk berpikir lebih panjang dan dalam terhadap suatu masalah. Apakah benar kita,hanya
bisa melakukan reaksi anarkis terhadap suatu isu yang dianggap merugikan negara kita. Benarkah itu jalan yang
patriot untuk membela harkat martabat kita. Kita sudah dikenal buruk di dunia luar,kumpulan orang agresif yang
dengan lantang melakukan cacian,makian,kata-kata kotor di berbagai media,yang secara tidak sadar sudah makin
menjatuhkan nama baik bangsa ini.
Aku mencoba untuk menyorot beberapa hal tentang permasalahan yang “panas” beberapa waktu terakhir,yang saya
dapatkan setelah membaca dan berdiskusi dari berbagai sumber.
Pertama,penyiksaan tenaga kerja di Malaysia. Hal ini sebenarnya semestinya menjadi koreksi kita bersama. Apakah
prosedur pengiriman tenaga kerja kita sudah benar ?. Berapa banyak tenaga kerja ilegal yang dikirim tiap tahunnya
?. Yang artinya berapa banyak tenaga kerja yang tidak terdata dan tidak jelas statusnya di negara orang?. Yang
artinya kemungkinan mereka yang dikirim ke negeri sana,belum tentu memiliki keahlian yang layak untuk bekerja
layaknya tenaga kerja legal. Mereka bahkan berbuat aksi kriminal di negara orang,untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka,karena mereka dikirimkan tanpa keahlian yang pasti. Hal ini juga berarti berapa banyak tenaga kerja kita
yang nasibnya tidak jelas,dan mengundang pandangan negatif masyarakat sana. Kekerasan tidak hanya terjadi di
negara orang. Jangan tutup mata,berapa banyak bentuk kekerasan terhadap pekerja rumahtangga di negara kita
sendiri. Kita bahkan menyiksa pekerja yang jelas-jelas satu bangsa satu negara dengan kita sendiri. Namun itu
kalah populer dibanding penyiksaan di negeri sana. Media cenderung memanas-manasi apa yang terjadi di negeri
orang,mengaitkan dengan rasa patriotisme semu. Video yang diduga bentuk penyiksaan terhadap TKI yang pernah
beredar,padahal video tersebut diyantakan tidak benar,bahwa yang disiksa adalah masyarakat Malaysia sendiri. Namun
media kita tetap mengangkat video untuk sebagai cara untuk memanas-manasi topik pemberitaan mereka.
Kedua,tentang klaim budaya. Aku begitu aneh mendengar kata “klaim”,yang belakangan menjadi keywords yang sangat
populer di telinga kita. Sesungguhnya klaim budaya bukan berarti menyatakan bahwa budaya tersebut berasal ASLI
dari suatu negara,namun menunjukkan bahwa budaya tersebut telah menjadi budaya masyarakat yang ada disana. Bahkan
UNESCO menyatakan bahwa suatu budaya yang sama sangat mungkin ada di beberapa negara sekaligus. Budaya merupakan
suatu bentuk aspek kehidupan yang telah biasa dilakukan oleh masyarakat setempat. Mari kita uraikan beberapa
bentuk kebudayaan yang diberitakan telah diklaim oleh Malaysia.
(i)Tari Pendet. Sudah jelas bahwa iklan itu merupakan advertisement yang diproduksi oleh Discovery Channel di
Singapore,dan Malaysia sama sekali tidak ada urusan dengan iklan tersebut. Dan tujuan dari iklan itu sendiri bukan
untuk mengklaim bahwa Tari Pendet berasal dari Malaysia. Sayangnya,kita terlalu dibodoh-bodohi oleh media. Media
kita seakan tutup mata,terus saja memberitakan bahwa itu iklan tourism Malaysia.
(ii)Batik dan Wayang. Memang,Malaysia juga memiliki motif batik, namun Batik Malaysia ini berasal dari Terengganu
dan motifnya sangat berbeda dari Batik Jawa Indonesia. Wayang Malaysia tidak sama dengan Wayang Jawa namun
dipengaruhi oleh Wayang dari Thailand. Dan Thailand tidak pernah mempermasalahkan ini.
(iii)Lagu Sayange. Lagu ini benar sudah menjadi lagu rakyat di negeri sana,dan dinyatakan bahwa lagu ini bersifat
anonim.
(iv)Reog dan Kuda Lumping. Ada sekitar sejuta masyarakat keturunan Jawa yang menetap di Malaysia,yang berarti
sangat mungkin bagi mereka untuk mempraktekan kebudayaan mereka di negeri orang.
Dari sekian bentuk budaya yang kita nyatakan telah diklaim oleh Malaysia,apakah ada bukti nyata bahwa Malaysia
melakukan klaim resmi yang menyatakan bahwa budaya-budaya tersebut berasal asli dari Malaysia ?. Media sudah
membodohi kita,mengangkat sesuatu yang belum jelas pastinya,dan berbicara seolah-olah itu fakta yang sudah
demikian adanya.
Aku sangat mencintai kebudayaan Indonesia. Aku juga percaya demikian perasaan bangsa ini. Namun,jangan sampai hal
ini membuat kita buta dalam melihat,buta dalam berpikir. Jangan sampai kita malah semakin menjatuhkan martabat
bangsa ini. Alangkah baiknya jika kita lebih dalam dan bijak berpikir,berusaha mencari solusi dan penyelesaian
yang terbaik,tanpa merugikan dan mencela. Alangkah indahnya jika kita mampu menawarkan solusi damai yang
menjadikan kehidupan yang jauh dari persengketaan dan kebencian belaka. Mari kita angkat derajat martabat
bangsa,buktikan bahwa kita bisa menjadi bangsa yang dewasa dalam menyikapi permasalahan,bangsa yang mengutamakan
kedamaian dan keharmonisan dalam hubungan,bangsa yang mencintai akan keindahan hidup beriringan saling
menghormati. Karena bangsa ini adalah bangsa yang besar,Bangsa dan Negara Indonesia,,,

Minggu yang lalu aku berkunjung ke kontrakan salahsatu temanku, Arif namanya, Muhammad Arif. Aku diundang untuk berbuka puasa bersama, dengan hidangan yang dia sediakan seadanya. Kebetulan hari itu aku kebingungan akan berbuka dengan apa, di kamarku belum ada-apa, nasi pun tak ada untuk dijadikan makan malam sehabis berbuka. Alhamdulillah, ini karunia  Tuhan aku kira.

Setiba di kamarnya, kami berbuka dengan secangkir teh kemasan dengan aroma apple, cukup untuk menghilangkan dahaga. Kemudian kami pun makan malam seadanya, dengan gulai daging khas masakan pemuda single seperti kami. Alhamdulillah, kenyang rasanya setelah berbuka. Sehabis makan, seperti biasa dia membakar tembakaunya, duduk menghadap keluar di jendela, menikmati udara luar. Aku dihidangkan 2 toples kue kering, yang dia bilang adalah kue lebaran yang dia bawa dari negaranya. Aku bertanya, apakah tidak apa dimakan sekarang ?. Dia bilang, tak apalah dimakan sekarang, sambil tersenyum. Akhirnya setelah merokok, dia mengambil beberapa kue kering, dan aku pun ikut serta. Kami pun bercengkrama tentang banyak hal, tentang keseharian di negeri orang ini, masa depan serta persamaan dan pengalaman di negara kami masing-masing.

Negara masing-masing ?. Ya, Muhammad Arif adalah seorang Malaysia. Seorang penduduk yang negaranya sedang akrab di telinga rakyat kita, sedang dicaci maki, sumpah serapah oleh rakyat kita. Seorang yang negaranya begitu terkenal di media masyarakat kita, yang katanya gemar melakukan klaim sana-sini dengan budaya negara kita.

Aku seorang Indonesia, seorang yang juga memiliki rasa kebangsaan dan nasionalisme yang tak boleh diganggu gugat. Aku seorang Indonesia, yang meski sedikit, mengerti akan kekayaan budaya Indonesia. Aku juga seorang Indonesia, yang juga pernah aktif untuk melestarikan dan menjaga salahsatu kebudayaan Indonesia. Namun aku seorang Indonesia, yang prihatin akan kedewasaan berpikir kita dan media informasi negara kita.

Aku tidak habis pikir dengan macam pemberitaan di media nasional. Berbagai sorotan negatif selalu muncul, bak tak ada hal-hal positif yang bisa diambil. Beberapa oknum melakukan reaksi yang luarbiasa brutal menurutku. Begitu banyak tindakan-tindakan anarkis, pembakaran bendera, munculnya nama “Malingsia” dan sebagainya, pengejekan dan pencacian di jejaring-jejaring sosial dunia maya. Bahkan beberapa temanku memasang status yang jelas-jelas mengundang permusuhan, yang menurutku tanpa sama sekali menunjukkan rasa nasionalisme akan negaranya. Artis dan public figur ikut-ikutan berkomentar, mengejek memancing permusuhan. Jujur, aku prihatin dengan semua ini.

Tak pernahkah kita berusaha untuk berpikir lebih panjang dan dalam terhadap suatu masalah. Apakah benar kita, hanya bisa melakukan reaksi anarkis terhadap suatu isu yang dianggap merugikan negara kita, seperti yang dipandang bangsa lain terhadap kita. Benarkah itu jalan yang patriot untuk membela harkat martabat kita. Kita sudah dikenal buruk di dunia luar, kumpulan orang agresif yang dengan lantang melakukan cacian, makian, kata-kata kotor di berbagai media, yang secara tidak sadar sudah makin menjatuhkan nama baik bangsa ini.

pintu-pagar-penuh-batu2

Aku mencoba untuk menyorot beberapa hal tentang permasalahan yang “panas” beberapa waktu terakhir, yang saya dapatkan setelah membaca dan berdiskusi dari berbagai sumber.

Pertama, penyiksaan tenaga kerja di Malaysia. Dari sudut pandang lain, hal ini sebenarnya bisa menjadi koreksi kita bersama. Apakah prosedur pengiriman tenaga kerja kita sudah benar ?. Berapa banyak tenaga kerja ilegal yang dikirim tiap tahunnya ?. Yang artinya berapa banyak tenaga kerja yang tidak terdata dan tidak jelas statusnya di negara orang?. Yang artinya kemungkinan besar mereka yang dikirim ke negeri sana, belum tentu memiliki keahlian yang cocok untuk bekerja layaknya tenaga kerja legal. Mereka bahkan berbuat aksi kriminal di negara orang, guna memenuhi kebutuhan hidup  mereka, karena mereka dikirimkan tanpa keahlian yang pasti. Hal ini juga berarti berapa banyak tenaga kerja kita yang nasibnya tidak jelas,dan mengundang pandangan negatif masyarakat sana. Kekerasan tidak hanya terjadi di negara orang. Jangan tutup mata, berapa banyak bentuk kekerasan terhadap pekerja rumahtangga di negara kita sendiri. Kita bahkan menyiksa pekerja yang jelas-jelas satu bangsa satu negara dengan kita sendiri. Namun itu kalah populer dibanding penyiksaan di negeri sana. Media cenderung memanas-manasi apa yang terjadi di negeri orang, mengaitkan dengan rasa patriotisme semu. Video yang diduga bentuk penyiksaan terhadap TKI yang pernah beredar, padahal video tersebut dinyantakan tidak benar, bahwa yang disiksa adalah masyarakat Malaysia sendiri. Namun media pemberitaan kita tetap mengangkat video untuk sebagai cara untuk memanas-manasi topik pemberitaan mereka. Benar, penyiksaan terhadap tenaga kerja kita sangat-sangat tidak beralasan untuk dilakukan. Namun apakah berarti kita juga harus melakukan tindakan anarkis untuk melakukan pembalasan ?.  Tidak adakah jalan damai yang tidak menimbulkan kekacauan dan kebencian ?.

Kedua, tentang klaim budaya. Aku begitu aneh mendengar kata “klaim”, yang belakangan menjadi keywords yang sangat populer di telinga kita. Sesungguhnya klaim budaya bukan berarti menyatakan bahwa budaya tersebut berasal ASLI dari suatu negara,namun menunjukkan bahwa budaya tersebut telah menjadi budaya masyarakat yang ada disana. Bahkan UNESCO menyatakan bahwa suatu budaya yang sama sangat mungkin ada di beberapa negara sekaligus. Budaya merupakan suatu bentuk aspek kehidupan yang telah biasa dilakukan oleh masyarakat setempat. Mari kita uraikan beberapa bentuk kebudayaan yang diberitakan telah diklaim oleh Malaysia.

  • Tari Pendet. Sudah jelas bahwa iklan itu merupakan advertisement yang diproduksi oleh Discovery Channel di Singapore, dan Malaysia sama sekali tidak ada urusan dengan iklan tersebut. Dan tujuan dari iklan itu sendiri bukan untuk mengklaim bahwa Tari Pendet berasal dari Malaysia. Sayangnya, kita terlalu dibodoh-bodohi oleh media. Media kita seakan tutup mata,terus saja memberitakan bahwa itu iklan tourism Malaysia.

tari-pendet

  • Batik dan Wayang. Memang, Malaysia juga memiliki motif batik, namun Batik Malaysia ini berasal dari Terengganu dan motifnya sangat berbeda dari Batik Jawa Indonesia. Wayang Malaysia tidak sama dengan Wayang Jawa namun dipengaruhi oleh Wayang dari Thailand. Dan Thailand tidak pernah mempermasalahkan ini.

  • Lagu Sayange. Lagu ini benar sudah menjadi lagu rakyat di negeri sana, dan dinyatakan bahwa lagu ini bersifat anonim.
  • Reog dan Kuda Lumping. Ada sekitar sejuta masyarakat keturunan Jawa yang menetap di Malaysia, yang berarti sangat mungkin bagi mereka untuk mempraktekkan kebudayaan mereka di negeri orang.

Dari sekian bentuk budaya yang kita nyatakan telah diklaim oleh Malaysia, apakah ada bukti nyata bahwa Malaysia melakukan klaim resmi yang menyatakan bahwa budaya-budaya tersebut berasal asli dari Malaysia ?. Media sudah membodohi kita, mengangkat sesuatu yang belum jelas pastinya ,dan berbicara seolah-olah itu fakta yang sudah demikian adanya.

Aku sangat mencintai kebudayaan Indonesia. Aku juga percaya demikian perasaan bangsa ini. Namun,jangan sampai hal ini membuat kita buta dalam melihat, dangkal dalam berpikir. Jangan sampai kita malah semakin menjatuhkan martabat bangsa ini. Alangkah baiknya jika kita lebih dalam dan bijak berpikir, berusaha mencari solusi dan penyelesaian yang terbaik, tanpa merugikan dan mencela. Alangkah indahnya jika kita mampu menawarkan solusi damai yang menjadikan kehidupan yang jauh dari persengketaan dan kebencian belaka. Mari kita angkat derajat martabat bangsa, buktikan bahwa kita bisa menjadi bangsa yang dewasa dalam menyikapi permasalahan, bangsa yang mengutamakan kedamaian dan keharmonisan dalam hubungan, bangsa yang mencintai akan keindahan hidup beriringan saling menghormati. Karena bangsa ini adalah bangsa yang besar, Bangsa dan Negara Indonesia,,,

damai

EK Sani

Advertisements

10 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Widya said, on September 6, 2009 at 10:30 am

    pertanyaannya sekarang bukan siapa yang mengklaim budaya dan apa budaya kita yang sudah diakui orang.

    tapi ….
    apa yang sudah kita lakukan untuk menunjukkan bahwa itu adalah budaya kita. harusnya orang indonesia jangan hanya protes, tapi tunjukkan partisipasi aktifnya terhadap pelastarian budaya …

  2. Fifi said, on September 12, 2009 at 7:06 am

    Hm..fi pernah bca d koran.,kalo ada blogger d malaysia yg “memintir” lirik lgu Indonesia Raya dan memplesetkan nama Indonesia menjadi IndoSIAL…
    Gmn mnurutmu soal ini van?

  3. evan said, on September 12, 2009 at 3:18 pm

    @ni wid: betul ni wid,semoga kita bisa mencintai budaya dengan cara yg lebih baik 😀

    @fifi: betul fi, van juga udah pernah baca blog yg dimaksud, isiny bener2 pengejekan terhadap bangsa ini,dan van sempat bener2 geram ngebacany,,,namun perlu dikoreksi lagi,apakah karena tindakan suatu oknum yg bermaksud tidak baik,akankah kita saling membenci dan mencaci? Di Indonesia juga banyak kan blog2 yg isinya mencaci Malaysia,juga dengan sebutan Malingsia,,,ini tindakan-tindakan yang memperparah polemik permasalahan,bukan menyelesaikan :),,,yang kita inginkan adalah terselesaikanny masalah dengan cara yg baik dan maksud yang baik,menurut van si 😀

  4. MISRANUDIN said, on September 16, 2009 at 10:55 am

    Baiknya antara indonesia dan malaysia dilakukan uji materi terhadap aset aset kebudayaan yang di claim malaysia, dan apabila negara malaysia salah harus dihukum internasional, biar tau……rasa

  5. evan said, on September 16, 2009 at 12:16 pm

    @misranudin: yap,jikalau memang ada prosedur yg demikian,maka semestiny kita jalani dengan baik,,,agar semuany menjadi jelas 🙂

  6. nadh said, on September 20, 2009 at 11:02 pm

    wah setuju bgt nih, aku br dpt satu blog yg isinya netral. Tapi memang seharusnya dialkukan tanpa emosi untuk menyelesaikannya. HIDUP INDONESIA, we LOve you!

  7. nida.nisrina said, on October 13, 2009 at 8:22 pm

    icon_smile.

  8. nida.nisrina said, on October 13, 2009 at 8:24 pm

    negara indonesia sangat kaya lagi !!!^_^ ^_^ 6_^ ^_^

  9. arif said, on December 15, 2009 at 7:48 pm

    merdeka INDONESIA, I LOVE U INDONESIA

  10. bayu said, on December 20, 2009 at 6:16 pm

    INDONESIA tetap menjadi bangsa yang baik, tidak pernah mencuri ikan di negara lain, menghormatiragam budaya yang berbeda, memberikan pengakuan pada budaya yang bukan budaya kita tanpa meng klaim nya, tahun 1967 angklung pernah dimainkan di malaysia dalam rangka memberikan angin segar untuk pemulihan hubungan bilateral Indonesia-malaysia, tapi sekarang??????
    Indonesia bukan hanya JAWA dan BALI, tapi juga ada KALIMANTAN, SUMATERA. PAPUA, SULAWASI. Masih ada TUGU KHATULISTIWA di PONTIANAK, yang sering disebut-sebut, masih ada sungai terpanjang di Indonesia yaitu BENGAWAN SOLO setelah SUNGAI KAPUAS, masih ada tenun Sambas dari Kal-Bar, masih ada Danau Sentarum di Putusibau, yaitu danau terbesar di ASIA TENGGARA danau hutan gambut yang kering di musim kemarau dan tergenang di musim hujan, Indonesia masih memiliki Heart Of Borneo di Kalimantan, Pulau terluar Natuna yang kaya akan gas alam, kabupaten Sambas yang terdapat materil tambang yang diilegal logingkan malaysia untuk membuat persenjataan mereka, Indonesia masih ada rumah betang, rumah melayu, BUKITKELAM, Ketapang di Kalimantan Barat yang tidak kalah dengan MANADO DAN BALI, masih ada hutan hujan tropis terbesar di Indonesia, yaitu Kabupaten sUKADANA DI kal-bar, masih ada alat musik bambu selain angklung di ketapang dan Pontianak. Sekarang mari kita mengenali Indonesia bukan hanya di Jawa dan Bali, melainkan seluruh budaya NUSANTARA ^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: