Secangkir teh hangat 'tuk jiwa yang lelah,,,

Makanan dan penganan murah meriah, sehatkah?

Posted in headline by evan on August 9, 2010

*Cerita semasa KP :D*

Saya baru saja kembali dari cafeteria, di kantor tempat saya melakukan kerja praktek untuk rentang waktu tertentu. Jam segini memang merupakan jadwal tetap saya untuk sekedar ngopi,sambil menatap padatnya lalu lintas kota Jakarta dari lantai 27. Lumayan, untuk melupakan sejenak kejenuhan karena tidak jelasnya apa yang saya musti kerjakan selanjutnya dalam kerja praktek ini.

Seperti biasa, hari ini para bapak-bapak itu kembali berkumpul,mengobrol sambil memegang cangkir kopi mereka masing-masing. Suara mereka cukup keras, sehingga saya pun bisa menyimak apa yang sedang mereka bicarakan. Tema mereka cukup menarik hari ini, mengenai makanan yang layak untuk dikonsumsi. Berikut saya ceritakan apa yang saya dengar, sekaligus dengan opini saya perihal tersebut.

Mungkin banyak dari kita yang mengkonsumsi hidangan-hidangan yang memuaskan selera di sekitar lingkungan kita. Seperti yang kita ketahui, kuliner Indonesia begitu kaya akan rasa. Ada gorengan, bakso, sate, siomay, batagor, mie ayam dan lain sebagainya. Penganan-penganan barusan dapat dengan mudah kita temukan di berbagai sudut kota. Selagi menunggu bis dari macetnya kota, para karyawan dan pekerja membeli sebungkus gorengan untuk sekedar cemilan. Selagi menunggu adzan magrib, anak-anak membeli semangkuk bakso untuk dinikmati hingga matahari terbenam. Begitu mudah dan murahnya (relatif) untuk kita mengenyangkan perut ini. Ini saya bandingkan ketika saya sempat tinggal di Jepang (cuma sebentar). Begitu susahnya disana mencari penganan kecil. Mana ada abang bakso atau mang gorengan yang dengan setia menemani hingga larut malam?.

Namun demikian, apakah pernah terpikir oleh kita, apa yang dikandung penganan yang sehari-harinya kita santap?. Tak sadarkah kita sudah menimbun racun yang terakumulasi hingga menimbulkan dampak buruk terhadap kesehatan kita nanti?. Dan percayakah kita bahwa sebenarnya kita diracuni oleh saudara sendiri?.

Berdasarkan investigasi dan reportase yang diberikan oleh beberapa tim jurnalistik, diketahui bahwa beberapa penganan mengandung berbagai macam bahan berbahaya yang bila dikonsumsi dapat berakibat buruk untuk kesehatan manusia. Tidak hanya itu,sering para pedagang (meski tidak semua) mencampurkan bahan-bahan yang tidak layak makan bahkan haram, untuk dijadikan sebagai aditif ataupun bahan utama untuk dagangan mereka. Bakso adalah penganan yang beberapa tahun lalu marak dibincangkan. Setelah ditelusuri banyak bakso yang dibuat tidak dengan daging sapi, namun dengan daging oplosan yang telah dicampurkan dengan bahan-bahan tidak layak makan, ntah itu bahan-bahan kimia ataupun bangkai/daging haram. Lalu, untuk menambah kerenyahan gorengan,para penjual memasukkan minyak goreng SEKALIGUS plastik kemasannya. Plastik yang jelas-jelas merupakan polimer dengan struktur kimia yang kuat dan sulit diuraikan oleh tanah sekalipun, dicampurkan sebagai perenyah penganan yang sering kita santap?. Berbagai jajanan anak-anak yang beraneka warna, disinyalir menggunakan pewarna pakaian untuk menarik perhatian para bocah. Tak hanya makanan saji, bahkan bahan-bahan makanan sudah sangat lumrah dioplos. Daging sapi dioplos dengan daging babi beberapa waktu lalu. Sulit dibedakan untuk orang awam, apalagi jikalau daging babi tersebut sudah diberi perlakuan tertentu sehingga dibuat serupa dengan daging sapi.

Ayam disuntik dengan zat kimia agar bertambah beratnya, sehingga minim gizi layaknya ayam-ayam normal. Buah-buahan tak lepas dari perlakuan curang para penjual. Buah disuntik dengan pemanis dan pewarna buatan meski buah tersebut masih muda. Bahan-bahan makanan yang sudah tidak layak makan/kadaluarsa dibaurkan dengan bahan-bahan makanan baru agar laku terjual.

Siapa yang begitu tega mencampurkan racun ke dalam bahan makanan kita?. Mengapa mereka tidak memikirkan dampak buruk yang ditimbulkan oleh tindakan yang demikian?. Sederhana saja alasannya, mereka butuh uang untuk makan. Mereka hanya ingin mendapatkan uang dan keuntungan yang lebih dari cara yang demikian. Mereka dapat membeli bahan baku dengan harga yang jauh lebih murah, kemudian menjualnya berupa penganan dengan harga yang sama. Atau mereka menarik pembeli dengan menawarkan harga murah, namun dengan bahan baku oplosan. Dengan iming-iming keuntungan yang berlipat ganda, mereka tega meracuni saudaranya sebangsanya sendiri.

Bicara tentang makanan diatas, terlihat bahwa kita, bangsa Indonesia masih lemah dalam pengawasan bahan makanan. Kita tidak sadar berapa banyak makanan-makan yang bebas didapatkan di pinggiran jalan, yang dibuat dari bahan-bahan yang haram dan merusak kesehatan. Siapa yang tau apakah bakso yang kita makan diolah dari daging sapi atau malah daging babi?. Siapa yang tau mie ayam yang kita makan berasal dari ayam halal atau malah bangkai yang diolah?. Ini jelas tidak hanya masalah ketentuan beragama,namun juga menyangkut kesehatan konsumen.

Apakah semua penjual dan pedagang makanan melakukan hal-hal tercela diatas?. Tidak, namun mereka terkena imbasnya. Akibat para oknum yang melakukan pengoplosan bahan makanan, mereka yang mengolah makanan dan menjualnya sesuai ketentuan yang berlaku,juga dijauhi pembeli. Para pembeli tidak percaya lagi dengan bakso keliling, mengakibatkan para pedagang bakso mengeluh karena pendapatan mereka turun drastis.

Banyak konsumen yang sadar akan bahaya dari bahan-bahan makanan oplosan yang dikenal murah ini. Namun mau tidak mau, mereka tetap membeli bahan-bahan makanan murah tersebut, karena alasan ekonomi. Mereka tidak mampu membeli bahan makanan yang disertifikasi,yang tentunya jauh lebih mahal. Masyarakat kita mayoritas masih menganut paham “asal bisa makan”. Mereka concern dengan kesehatan, namun kondisi ekonomi tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk memilih.

Demikian,betapa ironisnya bangsa kita. Keterpurukan memaksa kita untuk saling meracuni satu sama lain. Sedangkan yang diatas berlomba-lomba memupuk kekayaan untuk diri pribadi mereka,dengan enggan memandang ke bawah. Semoga nantinya kita bisa menatap masa depan yang lebih baik, dimana kita mau untuk berbagi dan ikut merasakan.