Secangkir teh hangat 'tuk jiwa yang lelah,,,

Cerita yang terlewatkan : Dies 34 UKM ITB “Art, Educare, and Gathering Event 2009 ”

Posted in path of my life by evan on May 2, 2009

Setelah sekian lama blog ini teracuhkan begitu saja, setelah sekian waktu terlewatkan tanpa terukir kata, kini kusampaikan ceritaku padamu kawan, tentang apa yang telah kulalui selama ini, selama diriku tak mampu ‘tuk menulis semuanya, menceritakan indahnya, karena tak semuanya bisa diungkap nyata.

Desember 2008

Aku sadar, aku tak bisa berbuat banyak kali ini. Keterbatasanku yang memasung diriku untuk tak bisa bergabung bersama teman-temanku di panggung nanti. Namun, akankah aku hanya duduk berdiam diri di depan kursi penonton nanti ?. Kenyataannya tidak begitu kawan, aku beruntung mendapatkan kepercayaan yang begitu luar biasa, kesempatan yang tak sembarang orang yang bisa. Aku pun mengambil kesempatan tak menduga, walau aku tahu dengan nyata, di depan sana begitu banyak aral menanti, begitu kelam langit menghitam. Dia sudah mengingatkanku, bahwa aku akan sulit membagi waktu. Namun aku bilang, aku butuh dirinya ‘tuk berbagi, aku butuh dirinya ‘tuk temani.

Januari 2009

Aku berdebat dengan para petinggi. Gila, mengadakan suatu acara besar di tahun ini, tahun 2009 ini. Di tengah ekonomi global yang tak menentu, berani-beraninya unit kampus ini menanggarkan dana luar biasa besar untuk acara yang total durasinya tak lebih dari 4 jam ? Aku masih berargumen sengit, darimana uang ‘kan datang teman, boro-boro mau memberikan donasi dan sponsor sedangkan untuk memberi makan para pegawainya saja perusahaan-perusahaan itu tidak sanggup ? Ditambah lagi dana yang dianggarkan begitu besar, sudah tentu para donatur kalang kabut melihat proposal. Tapi apa daya, aku pun berangsur mulai paham pemikiran mereka. Mungkin inilah yang jadi tanggunganku, mereka tak akan peduli bagaimana caranya. Karena pengorbananku tidaklah besar, hanya secuil jari mereka yang pulang malam.

Februari 2009

Semuanya masih baik-baik saja. Aku masih bisa mencari uang makan bersama teman-teman tim Pengisi Pundi. Paling tidak aku tidak ingin mereka sakit gara-gara kurang makan dan minum.Selalu kami cari cara untuk mengisi kas yang menipis. Beruntung aku punya mereka yang paham betul kondisi aku, mereka para Pengisi Pundi. Mereka kerap membantu, menyemangati diriku. Tapi sampai kapan teman, kita akan menafikan kenyataan ? Persediaan mulai kering, kebutuhan mulai datang bergaung nyaring. Di akhir bulan, aku mulai panik. Akankah benar bulan depan rejeki kami akan datang ?

Maret 2009

Aku ketakutan. Semua mulai berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi semua benar sudah aku proyeksikan sebelumnya, ini semua seperti apa yang aku estimasikan sebelumnya, kita terancam karam. Namun, tetap saja mereka tidak mau mengerti. Semua sudah berjalan hampir setengah jalan, aku tidak mungkin berbalik arah meninggalkan mereka. Kembali kulihat, sekelompok manusia pecinta budaya ini begitu harapnya, begitu kerasnya bertarung dengan angin malam disana. Lagi-lagi pengorbananku rasanya cukup ‘tak berarti dibanding mereka, para petangguh yang selalu pulang jam 3 subuh selang hari tiap minggunya. Bagi mereka yang selalu dievaluasi, meski mata dan otak mereka mulai tak berfungsi. Sedangkan aku, apa yang aku lakukan ? Hanya bisa menahan air mata, saat ditatap mata-mata yang berkata nista. Aku bolak-balik Jakarta-Bandung hanya untuk mereka. Aku tidak akan berhenti sekarang, menghilangkan harapan mereka yang akan tampil di panggung Sabuga. Rejeki kita akan datang teman, paling tidak aku yang akan menanggung ini untuk kalian.

April 2009

Waktu kami ‘tak cukup sebulan lagi. Dana minimal masih kurang 50 juta lagi ! Aku mulai mual, semua tagihan datang kepadaku. Berbagai tuntutan meluncur di hadapanku. Aku bukannya tidak berusaha teman. Rasanya muka ini sudah begitu tebal menghadap mereka, mengiba memohon pertolongan tiap harinya. Penolakan sudah mahfum aku terima, para sponsor tidak mampu memberikan dana. Malu sudah hilang dari raut wajahku. Hanya dengan modal tutur kata sopan aku berusaha meyakinkan mereka. Kepercayaan, idealitas dan realitasku bercampur aduk menikam otak. Hingga akhir aku yakin, akan ada jalan untuk kami.

Epilog : 23, 25 dan 26 April 2009

Aku puas, aku bahagia. Semua berjalan begitu bermakna. Di unit kampus ini harapan begitu nyata kurasa. Ternyata kami punya keluarga yang begitu perhatian, yang begitu peduli dengan kami. Rangkaian acara berjalan demikian adanya. Banyak yang berkata acara berlangsung sukses, bahkan ada yang berani mengklaim acara ini merupakan buah kerja pribadi mereka. Toh aku tidak peduli dengan itu. Aku belum pernah merasa sepuas ini. Air mataku menitik diatas kemeja garisku, melihat mereka memberikan hormat, menunduk elegan di depan 1200 penonton panggung Sabuga. Terimakasih teman, kalian sudah memberikan yang terbaik. Maaf aku hanya bisa tersenyum disini, menyaksikan kalian beradu aksi di panggung sana. Begitu besar inginku untuk ikut tampil, namun mungkin baru ini yang bisa aku berikan untuk kalian teman. Maaf, jikalau aku bahkan jarang melihat dan mengantar kalian pulang larut hingga azan shubuh menjelang. Namun percayalah, aku selalu yakin kalian bisa menampilkan yang terbaik, seperti yang telah kalian berikan pada 23,25,26 April 2009 ini.

Retorika

Dengan tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan. Sesuatu yang telah terjadi bukan terjadi begitu saja. Begitu banyak yang telah dilewati, begitu banyak yang sudah dijalani. Semua itu adalah buah hasil keringat dan air mata yang telah menetes indah sepanjang Jakarta-Bandung, dan menitik sekeliling gedung GSG tiap malamnya. Pesanku, ingatlah jejak yang telah ada, yang telah kita tanamkan bersama.

Terimakasih dariku, untuk kita bersama…

NB : special thanks untuk dirimu yang telah menemaniku melewati semua, engkau benar nyata untukku ^^


EK Sani

Advertisements

postbreak sejenak

Posted in path of my life by evan on November 24, 2008

kemana aja gw selama ini?

pertanyaan yang ga perlu dijawab kayanya,hehehehe
untuk mengobati kerinduan para penggemar (halah2), gw kembali hadir dengan otak yang makin tak wajar

here they are…..

kejadian 1

A : disini makannya pake sumpit ya?
B : iya
A : (sumpit jatuh) Yah, pake acara jatoh lagi
Mas, minta sumpitnya lagi donk

Mas : (ngasi sumpit)
A : Yaaaah, bukan yang kanan mas, kan saya mintanya sumpit yang kiri
B & Mas : ?????

kejadian 2

gw : males nih, masa besok musti ngumpulin pe-er jam 7. gile aje gw disuruh ke kampus sepagi itu.
temen : alah, jangan banyak ngeluh lu. anak SD aja sekarang udah masuk sekolah jam 6.30
gw : ….

kejadian 3

dosen : siapa penemu bola lampu?
temen : (dengan kenceng) James Watt
yg lain : (gubraaaaaaak)

EK Sani
yang lagi bingung mw nge-post apa

Sepuluh menit menjelang tidur…

Posted in path of my life by evan on October 22, 2008

Kulihat jam dinding diatas kepalaku
Jam 1 dini hari

Berkas-berkas tes serta pr segera kurapikan,semuanya telah selesai kunilai.Mataku mengantuk, namun sekitar 6 jam lagi aku harus sudah siap memberikan responsi di depan kelas, sendiri. Sial, aku hanya bisa tidur 5 jam paling lama.

Kulihat lagi jam dinding diatas kepalaku
Sudah lima menit berlalu

Kuusir kebosanan, kunyalakan music player, sayup sampai. Kulihat sekilas playlist notebook ini, ah, lagu lama. Koneksi internet tak bisa kumanfaatkan, mw ganti ke speedy kata yang punya. Gapapa lah, toh dari tadi pagi aku sudah berkutat mual depan komputer.

Jam diatas kepalaku masi berdetak
Tentu saja, baterai nya belum habis ini

Terpikir olehku, kisah sepanjang aku hidup sebagai seorang evan. Begitu banyak yang telah aku lalui, begitu banyak pilihan yang telah kujalani. Aku tahu aku tak boleh menyesal, dan memang aku tidak menyesal akan ini semua.

Sial, aku harus segera istirahat
Rutinitas sudah menungguku, menunggu tanpa tentu

Adakah yang bisa memahamiku sejauh ini ?
Jangan pernah bilang kamu, kamu, kamu bisa paham aku

Apa yang kamu ketahui tentang aku?
Seberapa jauh kamu kenal aku?

Memang tak banyak yang tahu aku, kenal aku

Kepalaku sudah mulai berat
Berat dengan berbagai beban, himpitan, tanggungan

Haruskah aku tidur sekarang?
Sepuluh menit menjelang 01.30

EK Sani

A Year later…

Posted in path of my life by evan on October 11, 2008

Setahun lagi

Rasa ini tak akan mungkin aku rasakan
Tawa canda kan tersimpan dulu dalam
Indah jiwa slalu menunggu ‘tuk inginkan

Mereka hanya bisa aku lihat dari layar kaca
Senyumnya, suaranya

Tenang
Aku akan sebisa mungkin kembali,
kembali untuk kalian

Kembali satu tahun lagi
dengan cerita indah berikutnya
dengan gelak tawa lainnya

Salamku untuk Mereka yang telah menemani selama hidupku
Keluarga “

EK Sani

Nostalgila Masa “Muda” ep.1

Posted in path of my life by evan on July 21, 2008

Aku berjalan di tengah keramaian pasar kaget di hari minggu kemarin. Ramai,seperti biasanya. Di pinggiran jalan berjejer rapi para pedagang kaki lima yang tak henti-henti menjajakan dagangannya. Tentu saja, yang paling diminati adalah penjual-penjual berbagai macam sarapan pagi, mulai dari bubur ayam, kupat tahu, nasi kuning dkk. Ah,aku belum lapar. Dan aku pun terus berjalan, melihat sekeliling menghilangkan penat.

Kulihat serombongan anak kecil mengelilingi pedagang stiker. Dandanan mereka layaknya anak muda Bandung jaman sekarang, celana tiga perempat, jaket distro dan rambut emo. Begitu hapalnya aku mode sekarang, karena begitulah dandanan mereka sekarang, kebanyakan. Kebanyakan dari anak-anak pergi bergerombol, sekitar 5-6 orang tiap gerombolnya. Mereka tertawa lepas, berlari kesana-kemari, tak peduli dengan ringisan pejalan kaki lainnya. Ah damainya…

Aku pun tenggelam dalam lamunan. Begitu kah aku dulu sewaktu kecil?

Aku semasa TK
Aku dikenal sebagai seorang yang cengeng, bandel, mainan-minded. Tiap pulang main dari TK (??), pasti maunya beli mainan mulu. Klo ngga dibeliin, udahlah, rela aku nangis keras2 modal ga tau malu di tengah jalan. Hasilnya, mainanku sekeranjang penuh pas TK itu. Tapi ya itu, udah pada rusak semua. Biasanya sih mainan-mainan itu ga tahan lama. Entah kenapa, rusak aja di tangan aku. Dulu aku hobi banget ama yang namanya ngegambar dan mewarnai. Pokoknya tiap waktu pasti ngegambar, trus pamer ke papa-mama. Aku paling inget, dulu tu aku seneng banget ama yang namanya Ksatria Baja Hitam, jadi sering gambar tokoh pahlawan bertopeng itu (hehe). Aku masih ingat klo tu Kotaro Miyami bisa berubah jadi Bio(Kstaria Biru) ama Robo(Kstaria Kuning). Paling seneng juga ama Power Rangers. Sebenernya sih aku rada bosen ama alur ceritanya yang itu2 aja. Tapi yang mebuat aku selalu mandi pagi buat nonton tu pilem, adalah robot-robotnya. Keren abis dah. Dulu ga kepikir kok bisa ya ada robot sekeren itu. Alhasil, setiap beli mainan, aku pasti ngincer robot-robot Power Rangers. Dan pasti selalu ngiri klo ada yang punya robot lebih gede daripada yang punya aku. O iya, karena aku hobi banget ama yang namanya menggambar dan mewarnai, aku pernah dapat juara III lomba mewarnai tingkat kota Pangkal Pinang,hehehe

Aku semasa SD
Pas SD, aku masih keliatan kayak anak TK. Maklum, aku masuk SD umur 5 tahun, setelah bosan main pelosotan di TK 2 tahun. Masi sering nangis, sering minta dibeliin sepatu warna-warna yang pas jalan lampunya kelap-kelip. Tapi ya ngga dibeliin, soalnya ke sekolah ga boleh pake sepatu warna-warni. Pas pulang sekolah, jarang yang langsung pulang ke rumah. Pasti kemana-mana dulu. Paling sering dulu tu ke rumah guruku. Jangan salah sangka, aku kesana bukan buat belajar. Kebetulan si ibu guru punya Nintendo buat anaknya. Jadinya, aku main mulu di rumah si ibu abis pulang sekolah. Nah biasanya tu, pas nyampe rumah, aku pasti kena marah. Soalnya pulang udah telat banget, dan mama udah nyariin kemana-mana. Sorenya, abis mandi, aku langsung meluncur ke rumah tetangga sebelah. Pengen nonton kartun bareng temen-temen. Padahal di rumah juga ada TV, tapi ga seru aja nonton sendiri.

Mungkin dari kecil aku udah seneng main-main bareng temen. Maunya keluar mulu. Tapi jangan harap aku kayak gitu di sekolah. Klo di sekolah aku tu dikenal cengeng, malah ada yang bilang aku ‘bencong’. Sial. Ini gara-gara klo di sekolah aku seringnya duduk deket anak-anak cewek. Aku tu males banget ngejar pelajaran di rumah, ngapal dll. Jadi aku belajar nya di sekolah. Nah kebanyakan temen-temen cowok sekolahku tu pada ga ngikutin pelajaran. Makanya, klo masalah belajar, aku lebih seneng belajar sama temen-temen cewek. Ini bener-bener mempengaruhiku mpe sekarang. Klo ga salah, tulisan ku bisa dibilang rapi ya karena sering ngeliatin catatan anak-anak cewek. Aku sering niru-niru tulisan mereka. Sampe-sampe tiap tahun font tulisanku beda-beda mulu,hehehe. Wajar ya sebenernya klo anak cowok senengnya main-main pas umur-umur segitu. Setiap terima rapor, paling cuma ada 6 anak cowok yang ada di peringkat 20 besar. Nah, aku paling males klo kalah dalam masalah peringkat. Makanya aku belajar ama anak-anak cewek yang jago-jago itu. Alhamdulillah, aku anak anak cowok yang mendapat peringkat kelas tertinggi diantara temen-temen cowokku yang lain.

Pas kelas 6 kan banyak lomba-lomba yang diadain, semacam lomba cerdas cermat dan sebagainya. Aku sering disuruh guru buat ikutan lomba-lomba. Karena yang akan berlomba itu dalam bentuk tim, aku ikutan bareng temen-temen. Akhirnya yang ditunjuk itu peringkat 3 besar kelas. Pas itu yang sering jadi langganan 3 besar itu Allevia Syarif, Evan K Insani, dan Putri Intan Sari (mudah-mudahan mereka baca ^^). Karena keseringan ikutan lomba bareng, kita tuh udah deket banget. Sahabat mungkin. Kayaknya karena ini aku sering dibilang ‘bencong’. Tapi dari sini aku mulai mengenal cara pandang wanita. Mereka sering cerita ke aku bagaimana mereka memandang sesuatu. Aku sih denger-denger aja. Soalnya klo pas anak-anak gitu kan, apa-apa aja pasti diketawain. Trus sering banget kejadian konflik anak cowok ama anak cewek. Klo aku mah orangnya damai-damai aja ama cewek,hehehe.

Sedikit banyak masa kecilku sangat berpengaruh pada karakterku saat ini. Bagaimana dengan aku semasa SMP dan SMA?Trus bagaimana aku sekarang?Tunggu edisi selanjutnya,hehehehe…

EK Sani