Secangkir teh hangat 'tuk jiwa yang lelah,,,

orang miskin dilarang sekolah?

Posted in headline, schooling by evan on April 16, 2008

hmm,sebenarnya sih lagi ga pengen posting serius,kadang pengen juga nulis-nulis ga jelas,nge-junk lah bahasa gaulnya (paradoks dengan cerminku,hwehehehe).

tapi apalah daya,yang ada dipikiran ini ga bisa ditahan2 lagi,jadinya serius lagi deh ^-^

pernah baca buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah” karangan Eko Prasetyo?. klo gw sih blum pernah baca buku nya tuntas,tapi udah review trailer nya. selain itu,gw juga udah pernah ngobrol langsung ama penulis nya juga. meski gw blum khatam tu bukunya,tapi yang menarik gw adalah idenya. pertanyaan muncul di pikiran gw adalah, “emang iya gitu orang misikin dilarang sekolah?”

mari kita tilik satu persatu fakta yang ada

percaya atau tidak,biaya pendidikan di negara ini masih terlalu tinggi. tentu saja ketika kita berbicara mengenai biaya,itu masalah relatif. nah masalahnya,ketika kita bicara masalah biaya di negara ini,itu bakal sensitif. liat aja tingkat kesejahteraan bangsa ini,meratakah?

terjadi suatu kesenjangan yang begitu signifikan ketika berhubungan dengan biaya. maksudku,coba bandingkan fasilitas. begitu miris nya kita melihat sekolah-sekolah yang dijalankan dengan biaya seadanya. mereka miskin fasilitas. yang mereka punya hanya papan tulis,kapur dan beberapa meja-kursi. punyakah mereka lab percobaan?punyakah mereka fasilitas kesehatan?atau malah punyakah mereka fasilitas internet?

tentu saja semua fasilitas yang didapatkan berbanding lurus dengan apa yang telah dibayarkan. nah klo gitu bagaimana dengan keadaan para orangtuayang hanya memiliki penghasilan terbatas?aku pikir tak ada orangtua yanga ingin anaknya telantar. mereka pasti ingin anaknya sekolah. namun apa mau dikata ketika uang mereka hanya cukup untuk makan saja?

kenyataan ini juga tercermin di kampusku. disana-sini begitu banyak laptop bertebaran. begitulah zaman sekarang,seolah-olah laptop sudah menjadi kebutuhan primer kuliah. minimal anak kampus punya komputer,itu katanya. nah bagaimana mereka yang tidak punya?terpaksa lah menumpang sana-sini. memang masih banyak diantara mereka yang tetap bisa bersaing. tapi tetap saja, apakah adil membandingkan sesuatu yang jelas-jelas tak ekuivalen?

untuk lebih mudah,mari kita ilustrasikan. anggaplah A merupakan mahasiswa yang pintar dan termasuk dalam golongan berkecukupan. kemudian ada si B,mahasiswa yang sama pintar nya dengan A,namun tidak berkecukupan. nah,mana yang bakal tumbuh lebih cepat pengetahuannya,A atau B?mungkin mereka sama-sama pintar,tapi si A memiliki fasilitas yang lebih daripada B. si A lebih banyak sumber untuk belajar ketimbang B. tentu saja si B bakal ketinggalan.

inilah paradoks di dunia pendidikan kita. yang kaya makin pinter,yang miskin makin bego. sistem kitalah yang menuntut seperti itu. tugas-tugas sudah di komputerisasi semua, meski fasilitas untuk itu belum memadai. bukannya gw menolak globalisasi seperti ini. yang gw herankan,sudah siapakah kita?

pendidikan ini perlu penyetaraan. semua masyarakat berhak mendapatkan hak yang sama. tak ada lagi kata, yang kaya mendapatkan yang lebih daripada si miskin. bukannya pendidikan adalah tanggung jawab negara?klo memang lagi ga ada uang ya ngga papa,tapi kenyataannya masi ada kok pejabat yang sempat2 nyilep uang negara.apa itu namanya?

semoga nanti pendidikan ini bisa berjalan semestinya,semua mendapatkan hak yang sama, si kaya dan si miskin bisa jadi sama2 pintar.

EK Sani

teori relativitas

Posted in schooling by evan on March 3, 2008

Huhuhuhuhuhuh, akhirnya penderitaan ini berakhir juga. Setelah dibantai dengan 5 kuis dan 4 tugas bangsat minggu lalu ditambah satu kuis lagi tadi pagi, otak ini sudah begitu karatan untuk berpikir, dan mental udah capek dengan kejutan- kejutan yang luar biasa mengejutkan (apa coba?). Kalo pengen tau jelasnya penderitaan kami seperti apa, liat aja blog satu ini. Itu sudah cukup mewakili kok (meski deno tidak sempat merasakan betapa manisnya kuis Fisika Material tersayang ^-^)

Well, sehubungan jadwal yang sudah tidak manusiawi lagi, aku udah kehilangan kesempatan buat nge-update blog ini minggu kemaren. Jadi harap maklum ya (“,). Sebagai gantinya, dengan bangga kupersembahkan postingan yang tak kalah memusingkan berikut (?)

Kemaren kita udah kuliah Metode Numerik kan?Nah sekarang waktunya buat Fisika Modern. Jadi ceritanya, aku pagi itu dengan antusias mendengarkan penjelasan dosen (meski kuakui dengan jujur, aku sempet keluar kelas kurang lebih 20 menitan buat sarapan ^-^). Kalo aku ngga salah denger, kita saat itu lagi ngebahas teori relativitas. Ada yang tau bunyinya apa?

headshot-einstein.png1. Semua hukum fisika adalah sama pada seluruh kerangka acuan inertial

2. Kecepatan cahaya dalam ‘free space’ memiliki nilai yang sama untuk seluruh kerangka acuan pengamat inertial

(Postulat Relativitas Khusus by Einstein)

Yaaa, kita ga bakal ngebahas panjang lebar tentang hukum diatas, tapi yang akan kita bahas adalah apa saja yang mungkin dilakukan dengan hukum ini. Berikut akan aku jabarkan mengenai pikiranku dalam menanggapi hukum relativitas

a. Time atau yang artinya waktu merupakan salahsatu kerangka acuan baru dalam perkembangan ilmu fisika. Sebelumnya kita hanya mengenal dimensi ruang, seperti yang terwujud dalam koordinat Cartesian yang biasa kita pakai. Namun saat ini, semuanya jadi serba relatif karena ada satu acuan lagi, yakni waktu. Sejujurnya aku pengen mengajukan suatu ide baru. Aku mengemukakan bahwa waktu adalah laju momen, bukan tenggang saat yang kita kira selama ini. Agak membingungkan ya? Mungkin kamu udah pernah dengar quote dibawah ini

Put your hand on a hot stove for a minute, and it seem like an hour. Sit with a pretty girl for an hour, and it seems like a minute, THAT’S relativity —A.Einstein.

Nah, menurutku ya, satuan minute dan hour diatas itu merupakan satuan momen atau yang kita kenal sekarang sebagai waktu. Sedangkan penyebab relativitas berjalannya momen itulah yang disebut laju waktu. Jadi, kecepatan laju waktu itu berbeda- beda, tergantung beberapa variabel yang ada. Lebih jelasnya, satu jam bagiku belum tentu sama lamanya dengan satu jam bagimu, karena laju waktu kita memiliki kecepatan yang berbeda. Bahasa matematisnya, laju waktu adalah turunan pertama dari momen. Tapi jujur saja, ide ini belum bisa kubuktikan secara eksak. Yaa,kalo misalkan nantinya teori ini terbukti secara matematis, terpaksa teori relativitas EINSTEIN bakal diganti ama teori relativitas EVAN ^-^

b. Kecepatan yang dianggap sebagai acuan saat ini adalah kecepatan cahaya, atau yang disimbolkan dengan ‘c’. Nah, pertanyaannya, mungkinkah kita melampaui kecepatan cahaya?Masalahnya, galaksi diluar Milky Way saja sudah berjuta-juta tahun cahaya jaraknya, bagaimana kita bisa mewujudkan perjalanan berkeliling antar galaksi?Tapi, kalo kita suatu saat mampu melebihi kecepatan cahaya, akan muncul suatu keanehan. Menurut teori, jika kita sedang berada pada kecepatan cahaya, lalu menghidupkan senter, cahaya senter itu akan berada dibelakang kita, karena kita sedang bergerak melebihi kecepatan cahaya sendiri.Pertanyaannya, dengan pengandaian ini mampukah kita menciptakan suatu teknologi teleportasi, atau berpindah tempat dalam sekejap mata? Pertanyaan lainnya, dengan analogi ini, bisakah kita melakukan hal yang serupa dengan waktu?Lebih jelasnya, kita bergerak dalam kecepatan yang melebihi kecepatan waktu itu sendiri, yang artinya perjalanan antar waktu terwujud. Apakah ini mungkin?

c. Pernah mendengar bahwa ada suatu dunia lain yang memiliki rentang waktu berbeda dengan bumi?Ketika kita sudah menjalani satu tahun disana, ketika kita kembali ke bumi ternyata hanya baru berjalan satu minggu?Aku yakin hal ini sudah banyak didongengkan, bahkan sudah difilmkan. Apakah hal ini bisa terjadi?Aku jawab bisa. Berdasarkan teori relativitas, ketika suatu benda bergerak dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan berjalan lebih lambat relatif daripada waktu di bumi. Jadi, mungkin saja di suatu galaksi nun jauh disana, planet mereka bergerak jauh melebihi kecepatan cahaya, sehingga satu tahun disana sama dengan satu minggu di bumi.

Diatas baru sebagian kemungkinan-kemungkinan yang bisa dipelajari dari teori relativitas. Terbukti, bahwa manusia belum tahu apa-apa. Tak ada yang bisa kita sombongkan, kita banggakan. Kita masi perlu banyak untuk mencari tahu, bukan untuk menjadi sok tahu. Setelah kuliah ini, aku langsung berpikir, bukannya tak mungkin suatu saat nanti, aku memiliki sebuah villa di jagat raya sana, entah di galaksi mana ^-^

If A equals succes,then the formula is A=X+Y+Z. X is work, Y is play, and Z is keep your mouth shut—A.Einstein.

NB: Kalo ada yang tertarik dengan simulasi-simulasi ilmu Fisika Modern, termasuk teori relativitas diatas, bisa mengunjungi website ini ato ini.

EK SaniĀ 

ilham dari faskomp

Posted in schooling by evan on February 11, 2008

hufff…inilah kan. kuliah dah kelar,tapi tetep aja ga bisa pulang. jam 5 ntar ada latian di unit. mo pulang dulu,nanggung (maksudnya ongkosnya). alhasil,sekarang gw lagi bengong ga jelas di faskom (fasilitas komputer) jurusan.

bingung, gw mulai surfing internet. mo YM an,semuanya juga lagi pada kuliah. mo buka friendster,bosen itu-itu aja. liat mail, kaga ada yang baru. open e-learning,otak gw dah pengap. beuuhh,tambah bingung lah diri ini. yaaa,daripada ga produktif,mending gw nulis aja kali ya…

ceritanya,tadi kan gw lagi kuliah Metode Numerik jam 11an. mata dah lunglai, badan berkunang-kunang. ditambah lagi perut ini SMS mulu minta makan. tapi,dengan gagah perkasa,gw tahan kantuk dan segala dahaga(hehehe). jadi, tu dosen lagi ngejelasin error dalam suatu perhitungan matematis. ternyata ya, klo komputer ngitung suatu penjumlahan bilangan dimulai dari bilangan kecil ke bilangan yang lebih besar,hasilnya bakal beda klo tu kompie ngitungnya dari bilangan besar ke bilangan yang lebih kecil.

smiley-confused.jpg

bingung?

ni gw kasi contoh:

0.00000000589 + 0.00000775 + 0.002458 + 0.0421 + 0.897 hasilnya bakal beda dengan 0.897 + 0.0421 + 0.002458 + 0.00000775 + 0.00000000589. ga percaya?awalnya gw juga bingung kok bisa kayak gitu. ternyata hasilnya bakal lebih valid klo kita ngitung dari bilangan yang kecil dulu baru ke bilangan yang lebih besar.

gw menemukan adanya suatu relevansi logika perhitungan komputer dengan cara berpikirnya manusia. pernah ga kita sadar klo terkadang kita berpikir dengan 2 cara. dalam berpikir,manusia mengurutkan permasalahan bisa dari kecil ke yang besar, atau sebaliknya dari besar ke yang kecil.

begitu banyak yang terlewatkan ketika dirimu berpikir dari suatu permasalahan yang lebih besar terlebih dahulu. masalahnya bukan pada kemampuan berpikir, tapi pada representasi sebuah problem. begini, bayangkan dirimu telah mampu menyelesaikan suatu permasalahan besar, tapi kemudian dirimu dihadapkan ke suatu masalah yang relatif lebih mudah. kebanyakan, sekali lagi kebanyakan orang, akan mengabaikan meaning yang ada dalam masalah tersebut. toh kita sudah menyelesaikan sesuatu yang lebih rumit kok, kenapa masalah sekecil ini tak bisa diselesaikan ?inilah yang menyebabkan loss of value selama ini. banyak dari kita yang menganggap sesuatu secara sepele atau remeh. seorang profesor tak peduli lagi dengan pelajaran anak SD karena dia telah menghasilkan karya ilmiah besar. seorang direktur bank cenderung menghiraukan karyawannya dibanding hubungan dengan klien. seorang ayah tak lagi aware dengan dilema anak bungsunya, lebih peduli dengan job nya.

ternyata, selama ini begitu banyak nilai-nilai yang kita hiraukan. begitu banyak pengalaman dalam kehidupan ini yang terlewatkan, hanya karena satu alasan, itu tidak penting. apa yang bisa merepresentasikan kadar suatu bentuk ‘penting’?hanya ada jika ada suatu pembanding kan?apakah manusia sama seperti komputer yang tak peduli dengan error dalam perhitungan, atau bahasa ilmiahnya diabaikan?

yang jelas,hidup ini jauh berbeda. caramu dalam memandang masalah akan ditentukan sebanyak apa pengalaman yang telah kamu dapatkan. hidup ini akan terasa indah, jika dirimu mampu untuk merasa.

EK Sani

gw muda?jelas…

Posted in schooling by evan on January 26, 2008

van, knapa lu aksel siy?

van, lu kapan mainnya,blajar mulu (iya gitu)?

van, ngapain lu lulus cepet-cepet?

aaaaah, bosen gw ama pertanyaan2 diatas. entah udah brapa kali mereka bertanya,tak puas-puasnya. sebenarnya maunya pa sih?peduli kah?

sebenarnya,gw ngerasa mereka ga salah nanya itu ke gw. tapi ini udah kelewat batas…gw kayak makhluk dari dunia apa gitu,yang tiba-tiba muncul di kehidupan normal mereka. awalnya gw masi biasa-biasa aja ya,karena ya gw juga tau klo gw emang masuk ke dunia yang berbeda (i hope U know wat i mean). gw sadar kok,gw tu masi *bocah* di banding mereka. gw tau kok gw ini masi blum ada apa-apanya dibanding mereka. gw ngerti bahwa gw bla bla bla…

apa si salahnya klo gw muda?aneh ya?apa gw terlihat tidak normal karena tidak sesuai dengan lingkungan tempat gw berada?

mari kita jawab satu2 pertanyaan diatas

ya,gw emang aksel di sma.trus kenapa?salah ya klo gw aksel?selalu ada ja yang ngomong “ah,kamu ga menikmati masa muda van” ato kamu mana pernah ngerasain masa-masa remaja” malah ada yang komentar “kamu tu terlalu cepet dewasa”. hei,stop komentar yang ngga2. gw balik nanya deh,ada yang salah klo gw cuma pengen sma gw 2 taun?ada yang salah klo gw ga mau berlama2 di bangku sekolahan?aaaah,kenapa ya banyak yang berpikiran klo gw yang cuma bisa ngerasain masa sma 2taun ini ga bisa menikmati masa remaja. siapa bilang?gw udah ngalamin yang namanya pengalaman sebagai remaja layaknya,pegi ke sekolah nebeng temen,bolos bareng2,main kartu di belakang pas guru ngajar,nyontek pas ujian,ngapal mati-matian buat postest,suka2an ama temen sesekolah,ikut karantina OSIS,ditempeleng senior,dihukum wakil kepsek,main bola ampe ke ujung dunia,ngeband ampe tepar…

apa yang kurang coba?apa itu semua ga bisa dilalui hanya dalam waktu 2taun?tetep aja masi ada yang komen “dengan waktu segitu ga bakalan cukup untuk ngambil pengalaman”. Hell yeah,waktu bagi gw adalah sesuatu yang paling absurd(ngalahin ke-absurd-an nya wanita). waktu itu bener2 relatif,tak ada yang bisa kau bandingkan jika patokanmu adalah waktu. lebih jelasnya pandangan gw ttg waktu,ntar bakal gw posting “teori waktu” di session berikutnya. gw kasi contoh simple ya,ada orang yang bisa hapal nama orang cuma dengan sekali kenalan,ada juga yang perlu ngobrol lebih lama,baru hapal. nah,dari segi waktu mereka berbeda kan?klo emang,tapi klo ternyata pas diuji di suatu waktu,mereka sama-sama bisa ngejawab pertanyaan “siapa nama orang ini?”,apa itu berarti orang yang bisa cepet ngapal nama orang tu miss a thing?mungkin ada yang pengen komen,klo proses tu penting. okay,gw setuju banget dengan itu. tapi kita bicara hal yang lain lho. apakah proses itu memiliki variabel waktu?apakah antara proses,waktu dan hasil selalu sebanding dan linier?inilah yang sudah menjadi stigma umum saat ini. bahkan belakangan sepertinya menjadi suatu hukum yang dibuat-buat. akibatnya apapun yang melanggar hukum ini,bakal dicap aneh dan tidak sesuai dengan yang seharusnya,kasarnya produk gagal. manusia memang sekenanya,generalisasi adalah kegemaran kita…

*van, lu kapan mainnya,blajar mulu ?*

????waduh,ini mau muji apa mo nyindir ya?seriusan dah,protes ini kayaknya ga sesuai banget ama gw. gw tu dah langganan di ceramahin ortu gara-gara maen mulu. gw tu klo maen ga kira-kira,jadinya kuping ni dah panas dijawir mulu. tau deh,yang komen kayak ginian kayaknya blum kenal gw,seenaknya aja protes. klo yang ingin disoroti tu lagi-lagi masalah waktu,it’s enough. gw merasa cukup dengan waktu yang dikasi ke gw kok,trus kenapa mereka yang sewot?klo gw bisa seneng-seneng dengan waktu yang ada,meski itu lebih pendek dibanding yang lain,apa itu berarti gw ga normal?gw ngerasa proses yang gw jalani selama ini sama aja kok dengan yang lain,meski dalam jangka waktu yang berbeda. untuk ini,gw punya quote bikinan sendiri:

 

teman,gw masi punya banyak waktu untuk bermain denganmu,dengannya,ataupun dengan yang lain.tapi,jikalau dirimu hanya ingin main-main,maaf,diriku tak ada waktu untuk itu

 

lulus cepet?salah ya?kenapa siy semuanya jadi serba salah. “van,lu tu dah aksel,ngapain lu lulus cepet sih?”. hek?sekali lagi,gw ga bakal ninggalin yang namanya proses. gw cuma pengen mengalami hal-hal yang baru selama gw masi punya sesuatu yang namanya umur. gw ga suka dengan orang2 yang hanya berkutat dengan kehidupan pribadinya saja. gw juga ga suka dengan egoisme. toh,gw juga ikutan kegiatan mahasiswa,maen pingpong di himpunan,hedon ga jelas tiap abis ujian. namun,klo masalah prinsip,mohon jangan gugat gw. pasti ada yang ingin gw tuju,pasti. setiap individu memiliki variabel-variabel tersendiri yang menjadi pertimbangan atas keputusannya.“aahh,paling ni anak cuma pengen sok-sokan”,silent please. apa gw ga boleh ngomong yang kayak ginian karena umur gw blum cukup?wawasan gw mungkin yang paling minim diantara mereka,tapi paling ngga gw masi punya keinginan dan waktu untuk mewujudkan wawasan itu…

gw nulis ini berdasarkan pemikiran gw,tanpa ada pengaruh apapun. yang gw inginkan hanya menyampaikan rasa. gw ga butuh perdebatan disini,karena pasti bakalan crash.

terserah dirimu ingin komen apa,yang jelas tats way I think. gw bangga dengan keputusan dan diri gw saat ini. dan gw selalu berusaha untuk jadi apa adanya…

EK Sani

kuliah?bukan,gw belajar

Posted in schooling by evan on January 14, 2008

ya ya ya
selamat datang!!!
ibarat sebuah rumah,Anda sekarang sedang berada di ruang belajar
disinilah segala tumpahan mengenai study akan terlihat
disinilah segala impian mulai diwujudkan

jadi
semoga Anda tidak menemukan rumus-rumus tercecer disini

regards

EK Sani